Tautan-tautan Akses

Proses Perdamaian Ukraina Macet


Empat Menlu Eropa membahas masalah krisis di Ukraina di Paris, Perancis (3/3). Dari kiri: Menlu Rusia Segei Lavrov, Menlu Ukraina Pavlo Klimkin, Menlu Perancis Jean-Marc Ayrault dan Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier.

Empat Menlu Eropa membahas masalah krisis di Ukraina di Paris, Perancis (3/3). Dari kiri: Menlu Rusia Segei Lavrov, Menlu Ukraina Pavlo Klimkin, Menlu Perancis Jean-Marc Ayrault dan Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier.

Tidak ada terobosan dalam upaya diplomatik terbaru untuk menegakkan perjanjian perdamaian di Ukraina bagian timur. Namun pengamat mengatakan yang disebut ‘Perjanjian Minsk’ masih belum mati.

Hari Kamis (3/3) di Paris yang disebut ‘Format Normandy’ dan terdiri atas para menteri luar negeri Perancis, Jerman, Rusia dan Ukraina mencoba memulihkan proses perdamaian itu ke relnya. Pasal-pasal yang disepakati di Minsk pada bulan Februari 2015 tidak sepenuhnya dilaksanakan sampai pada saat batas waktunya tiba yaitu akhir tahun lalu.

Analis Jeff Rathke pakar senior pada Center for Strategic and International Studies mengatakan baik separatis yang didukung Moskow maupun Kyiv perlu memenuhi bagian-bagian mereka untuk bisa bergerak maju menegakkan gencatan senjata serta reformasi politik guna mendobrak kemacetan.

Rathke mengatakan kepada VOA hari Jumat bahwa tujuan Russia ikut dalam perundingan ialah mencoba mencari jalan keluar agar tidak ditimpa sanksi yang diberlakukan Barat.

Seorang pejabat tinggi Departemen Luar Negeri Amerika mengatakan kepada VOA, untuk bisa melaksanakan aspek politik, ekonomi dan kemanusiaan serta pemilihan lokal seperti yang termaktub dalam Perjanjian Minsk diperlukan gencatan senjata penuh disertai penarikan semua senjata berat dari wilayah konflik.

Usai perundingan beberapa jam, menteri luar negeri Perancis Jean-Marc Ayrult menetapkan tanggal 30 April sebagai batas waktu melakukan pertukaran tawanan dalam konflik itu sedang pemilihan lokal di wilayah Donbas diadakan akhir bulan Juni. [al]

XS
SM
MD
LG