Tautan-tautan Akses

Program Pendidikan Pra-Sekolah di Serawak Diajarkan dengan Bahasa Ibu

  • Lisa Schlein

Seorang ibu menjemput anaknya pulang dari taman kanak-kanak di sebuah wilayah di Sarawak di mana bahasa ibu dipergunakan dalam program pengajaran, bukan bahasa Melayu.

Seorang ibu menjemput anaknya pulang dari taman kanak-kanak di sebuah wilayah di Sarawak di mana bahasa ibu dipergunakan dalam program pengajaran, bukan bahasa Melayu.

Sebuah komunitas petani suku asli di bagian terpencil Sarawak mengajarkan anak-anak pra-sekolah dengan bahasa ibu mereka, bukan bahasa Melayu.

Puluhan anak berusia tiga dan empat tahun dengan antusias mengerubuti sekelompok pengunjung. Mereka tidak sedikit pun malu bertemu orang asing. Mereka ingin tahu dan terlibat percakapan asik dengan para pengunjung itu.

Seorang pejabat mengatakan anak-anak itu selalu seribut itu. “Anak-anak itu polos, tidak bersikap dibuat-buat. Setiap saya datang ke sini sekali atau dua kali sebulan, mereka bersikap sama. Sikap itulah yang kami ajarkan kepada mereka, percaya diri. Mereka banyak berinteraksi dengan para guru,” ujar Josak Anak Siam.

Ia adalah koordinator Program Pendidikan Multibahasa di Kampung Bunuk, komunitas kecil petani di bagian terpencil Sarawak. Josak ANak Siam juga membantu mendirikan pendidikan pra-sekolah, yang memberikan pelajaran dalam bahasa setempat Bidayuh.

Program percobaan di komunitas ini dimulai bulan Januari 2007, bekerja sama dengan Organisasi Pendidikan, Sains, dan Budaya PBB (UNESCO) dan Summer Institute of Linguistics (SIL) cabang Malaysia.

Josak mengatakan desa itu meluncurkan program pendidikan pra-sekolah ini setelah mendapat penjelasan dari para pejabat SIL mengenai manfaat pendidikan multi-bahasa. “Ketika itu para pejabat SIL menjelaskan kepada kami bahwa banyak bahasa punah karena orang tidak melestarikan bahasa-bahasa itu. Jadi, sebelum bahasa Bidayuh hilang dari dunia ini, kami harus bertindak untuk mengembangkan kurikulum bahasa itu dan kemudian kami memulainya dengan sekolah-sekolah bermain di mana kami membuat anak-anak punya dasar yang kuat dalam bahasa ibu mereka sebelum mereka belajar bahasa-bahasa lain,” paparnya.

Semakin sulit untuk terus menghidupkan bahasa suku asli karena banyak komunitas yang menggunakan bahasa itu semakin berkurang. Siti Rodziah, pimpinan utama pada Divisi Pengembangan Bisnis dan Keuangan di Sididik mencatat hanya sekitar 2.000 orang tinggal di Kampung Bunuk. Ia mengatakan kelompok muda meninggalkan desa itu dan pindah ke ibukota Sarawak, Kuching, dan kota-kota lain mencari kerja, sedangkan orang-orang tua tinggal di desa, bertani.

Dana Anak-anak PBB (UNICEF) mendukung beberapa program bahasa ibu untuk pendidikan pra-sekolah di kalangan etnis Hmong di Vietnam.

XS
SM
MD
LG