Tautan-tautan Akses

Profesor Jerman Tolak Mahasiswa India Terkait Alasan Perkosaan


Para aktivis perempuan melakukan unjuk rasa, menuntut hukuman keras bagi pelaku perkosaan di Mumbai, India (foto: dok).

Para aktivis perempuan melakukan unjuk rasa, menuntut hukuman keras bagi pelaku perkosaan di Mumbai, India (foto: dok).

Profesor Annette Beck-Sickinger di Leipzig University menolak mahasiswa pria India yang melamar untuk magang dengan alasan “masalah perkosaan di India.”

Duta Besar Jerman untuk India telah menegur seorang profesor Jerman terkait komentar mengenai perdebatan publik di India tentang pemerkosaan dan hak-hak perempuan yang mengundang perhatian luas di internet.

Profesor Annette Beck-Sickinger di Leipzig University menolak seorang mahasiswa India yang melamar untuk magang dengan alasan apa yang ia sebut “masalah perkosaan di India.” Beck-Sickinger mengatakan banyak perempuan profesor di Jerman menolak mahasiswa laki-laki asal India karena alasan-alasan ini.

Ia menulis bahwa ia banyak mendengar tentang masalah perkosaan. Banyak mahasiswi di kelompoknya dan profesor itu menyatakan ia tidak dapat menerima mahasiswa asal India.

Komunikasi melalui email antara mahasiswa dan profesor itu beredar luas setelah diunggah oleh rekan mahasiswa tersebut. Duta Besar Jerman untuk India menanggapi kontroversi itu hari Senin (9/3) dengan mengatakan, India bukanlah negaranya para pemerkosa.

Michael Steiner menulis surat kepada Beck-Sickinger dengan mengatakan bahwa sikap profesor itu yang terlalu menyederhanakan dan mendiskriminasi secara umum merupakan penghinaan bagi jutaan warga India yang taat hukum, toleran, berpikiran terbuka dan bekerja keras.

Profesor tersebut meminta maaf atas komentar-komentarnya seraya mengatakan ia tidak bermaksud mendiskriminasi masyarakat India. Kedutaan Besar Jerman memuat permintaan maaf itu di situs webnya.

Masalah kekerasan seksual di India mendapat pemberitaan luas di media setelah pemerkosaan beramai-ramai yang akhirnya menewaskan korban, seorang mahasiswi berusia 23 tahun di New Delhi pada tahun 2012.

Pekan lalu, pemerintahIndia menyensor penayangan film dokumenter mengenai kasus tersebut, di mana salah seorang pelaku tidak menunjukkan penyesalan atas pembunuhan itu. Tindakan itu diambil dengan alasan film itu akan menyulut ketegangan di India. Para pengecam menyatakan pemerintah hanya berupaya meredam perdebatan mengenai isu penting tersebut.

XS
SM
MD
LG