Tautan-tautan Akses

Produk Keuangan Syariah Berisiko Kehilangan Keunikan


Pegawai di Bank Syariah Mandiri di Jakarta. (Foto: Dok)

Pegawai di Bank Syariah Mandiri di Jakarta. (Foto: Dok)

Segmen obligasi syariah (sukuk) yang tumbuh paling pesat semakin menjauh dari struktur bagi hasil, berisiko melemahkan proposisi nilai industri tersebut.

Sektor keuangan syariah terus berkembang secara global, namun industri tersebut berisiko kehilangan pembeda dari produk-produk keuangan konvensional dan kekurangan data resmi untuk menjamin pengawasan yang lebih baik, menurut sebuah badan pengawas.

Keuangan syariah bertahan lebih baik dalam krisis finansial global dibandingkan perbankan konvensional dan telah pulih dalam aspek-aspek seperti tingkat keuntungan dan kualitas aset, menurut Badan Layanan Keuangan Syariah (IFSB) dalam laporan stabilitas keuangan ketiganya.

Keuangan syariah, yang memiliki pasar utama di Timur Tengah dan Asia Tenggara, mengikuti prinsip-prinsip agama yang melarang bunga dan menghindari spekulasi langsung, sehingga dilihat sebagai alternatif dari perbankan berbasis bunga.

Namun segmen obligasi syariah (sukuk) yang tumbuh paling pesat semakin menjauh dari struktur bagi hasil, yang berisiko melemahkan proposisi nilai industri tersebut.

Kurang dari tujuh persen sukuk baru yang dikeluarkan dalam tiga kuartal pertama tahun 2014 didasarkan pada kontrak-kontrak bagi risiko dan sebaliknya lebih memilih kontrak berdasarkan penjualan, menurut laporan tersebut.

Hal ini dapat membuat sukuk dinilai berdasarkan sistem harga dan pendekatan manajemen risiko yang sama dengan obligasi biasa.

“Akibatnya, kesulitan apa pun yang terjadi dalam sistem keuangan global, bahkan jika berasal dari sektor konvensional, akan berdampak pada stabilitas keuangan pasar sukuk,” menurut laporan tersebut.

Hal ini diamati dalam ketidakstabilan dari laporan-laporan pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS, yang memiliki efek-efek sama pada pasar sukuk dan obligasi, tulis laporan itu.

Kekhawatiran lain adalah kurangnya data resmi untuk membantu memantau dan mengawasi industri tersebut. Beberapa lembaga publik dan swasta mengumpulkan informasi tersebut namun pada banyak kasus data tidak terstandardisasi atau komprehensif, menurut IFSB.

Bulan lalu, IFSB meluncurkan bank data indikator-indikator industri yang mencakup 15 negara, yang bertujuan untuk mengisi kesenjangan yang ada.

Sektor keuangan syariah sekarang memiliki nilai penting sistemik di negara-negara seperti Kuwait dan Qatar, dan telah menghasilkan pendapatan lebih luas berkat dukungan pemerintah seperti Pakistan dan Turki.

XS
SM
MD
LG