Tautan-tautan Akses

Pria Korea Selatan Bakar Diri di Depan Kedutaaan Jepang di Seoul


Seorang pria Korea Selatan (kiri) membakar diri di depan Kedutaan Jepang di Seoul (kiri), sementara seorang perempuan berupaya memadamkan api (12/8).

Seorang pria Korea Selatan (kiri) membakar diri di depan Kedutaan Jepang di Seoul (kiri), sementara seorang perempuan berupaya memadamkan api (12/8).

Korea Selatan mengatakan Jepang tidak memiliki kompensasi yang cukup dan perlu meminta maaf kepada mereka yang dipaksa menjadi 'perempuan penghibur' di era Perang Dunia II.

Seorang pria Korea Selatan membakar diri di luar Kedutaan Besar Jepang di Seoul dalam aksi protes terhadap kekejaman Jepang selama era Perang Dunia II.

Media Korea Selatan mengatakan pria berusia 80 tahun tersebut mengalami luka bakar yang tidak mengancam-jiwa dan dilarikan dengan ambulans, setelah pengunjuk rasa lainnya berupaya memadamkan api. Motifnya belum jelas.

Insiden tersebut terjadi di tengah aksi unjuk rasa mingguan untuk menuntut keadilan bagi ratusan ribu wanita Korea Selatan yang dipaksa bekerja sebagai budak seks di rumah bordil militer Jepang.

Kim Sun-min, seorang di antara beberapa pengunjuk rasa yang bergegas membantu memadamkan api, mengatakan ia tidak melihat pria itu sebelum ia membakar dirinya di atas hamparan bunga dekat lokasi unjuk rasa. Gumpalan kapas terbakar dan botol kaca kecil yang berbau bensin ditemukan di lokasi kejadian. Unjuk rasa berlanjut setelah pria itu dibawa ke rumah sakit.

Pria itu menderita luka bakar tingkat tiga pada wajah, leher, tubuh dan lengan atas dan mengandalkan mesin pernapasan setelah paru-parunya memburuk, menurut seorang pejabat di Seoul Hallym University Medical Center, yang tidak mau disebutkan namanya.

Pada awalnya polisi mengatakan pria itu terlihat berusaha menghindari cedera yang dapat mengancam jiwa.

Para aktivis telah menyelenggarakan protes mingguan di depan Kedutaan Besar Jepang sejak tahun 1992 untuk menuntut keadilan bagi wanita Korea Selatan yang dipaksa bekerja sebagai budak seks bagi militer Jepang selama perang dan pertemuan tersebut sebagian besar berlangsung damai. Peserta protes cukup banyak pada Rabu (12/8), menjelang peringatan tahunan aktivitas tersebut.

Banyak warga Korea Selatan memendam kebencian yang mendalam terhadap Jepang atas penjajahan yang mereka lakukan. Ratusan ribu warga Korea telah dipaksa untuk berperang sebagai tentara di garis depan, bekerja dalam kondisi kerja paksa, atau bekerja sebagai pelacur di rumah bordil yang dioperasikan oleh militer Jepang selama perang.

Sentimen anti Jepang tersebut menguat dalam beberapa tahun terakhir setelah warga Korea Selatan merasa Tokyo berusaha mengecilkan perilaku militer Jepang di masa perang. Selain itu juga dipicu oleh klaim teritorial Jepang atas serangkaian pulau kecil di wilayah Korea Selatan.

Aksi protes mingguan ini terkadang diwarnai oleh kekerasan. Bentrokan antara demonstran dengan polisi sering terjadi, dan di masa lalu demonstran sering melemparkan kotoran ke arah gedung kedutaan Jepang.

Sejak menjabat tahun 2013, Presiden Korea Selatan Park Geun-hye menolak bertemu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang konservatif kecuali kalau Abe meminta maaf secara tulus atas pelanggaran semasa perang, dan memberi kompensasi kepada perempuan penghibur.

Beberapa materi laporan ini diambil dari the Associated Press.

XS
SM
MD
LG