Tautan-tautan Akses

AS

Reaksi Terhadap Perjanjian Perdagangan Bebas Kemitraan Trans-Pasifik


Presiden Obama dalam pertemuan dengan para pemimpin bisnis dan pertanian terkait TPP di Departemen Pertanian AS (6/9).

Presiden Obama dalam pertemuan dengan para pemimpin bisnis dan pertanian terkait TPP di Departemen Pertanian AS (6/9).

Presiden Obama menghadapi oposisi keras terhadap kesepakatan itu, termasuk oleh para anggota kongres dari partainya sendiri, Partai Demokrat.

Hari Selasa lalu Presiden Amerika Barack Obama mempromosikan Kemitraan Trans-Pasifik atau TPP, sehari setelah 12 negara di kawasan Pasifik mencapai kesepakatan perdagangan bebas di kota Atlanta.

Pakta kontroversial yang akan melibatkan sekitar 40 persen volume perdagangan global itu masih membutuhkan persetujuan parlemen masing-masing negara yang terlibat dalam kesepakatan itu.

Presiden Obama menghadapi oposisi keras terhadap kesepakatan itu, termasuk oleh para anggota kongres dari partainya sendiri, Partai Demokrat.

Setelah lebih dari lima tahun perundingan intensif, Amerika Serikat dan 11 negara lainnya di kawasan Pasifik Senin lalu mencapai kesepakatan untuk menghapus atau mengurangi berbagai hambatan dalam perdagangan timbal balik. Para pendukung, termasuk Presiden Obama, mengklaim kesepakatan itu akan memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pembangunan dan menggalakkan inovasi di seluruh kawasan Asia-Pasifik.

“Perjanjian ini membuat kita lebih kompetitif dengan menghilangkan 18.000 pajak dan tarif yang dikenakan pada produk Amerika di negara-negara lain,” kata Presiden Obama.

Tapi banyak anggota kongres Amerika dari kedua partai tidak yakin akan hal itu. Senator dari negara bagian Vermont, Bernie Sanders, yang kini ikut bersaing memperebutkan nominasi presiden dari Partai Demokrat, mengatakan kepada para pendukungnya di Washington bahwa perjanjian-perjanjian perdagangan bebas sebelumnya gagal memenuhi harapan.

“Sejarah perjanjian perdagangan di negara ini telah menjadi bencana bagi pekerja Amerika. Kami telah kehilangan jutaan lapangan pekerjaan dengan gaji yang layak. Berbagai perjanjian itu telah membawa kita ke dalam persaingan yang tidak adil. Terus terang saya bosan melihat pekerja Amerika harus bersaing melawan orang-orang di negara-negara berupah rendah di seluruh dunia yang dibayar di bawah satu dolar per jam. Keadaan itu harus berubah,” kata Bernie Sanders.

Para pakar mengatakan kesepakatan perdagangan Trans-Pasifik akan merugikan industri, paling tidak pada awalnya, tetapi akan baik bagi perekonomian global secara keseluruhan.

“Jelas, sebagian pemenangnya adalah industri teknologi tinggi. Kita lihat semikonduktor, komputer, kita lihat dalam perjanjian itu benar-benar ada terobosan ketentuan terkait aliran bebas data dan yang mencegah negara-negara dalam perjanjian itu mengharuskan penyimpanan data secara lokal yang selama ini merupakan masalah besar bagi Google,” demikian penjelasan Edward Alden dari Council on Foreign Relations (Dewan Hubungan Luar Negeri).

Kemitraan perdagangan yang mencakup hampir setengah populasi dunia itu diperkirakan akan melemahkan China yang belum bergabung. Namun seorang pakar ekonomi China mengatakan perjanjian itu tidak akan berdampak besar pada perdagangan luar negeri negara itu.

“China telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas bilateral dengan dua pertiga anggota TPP. Hal ini dapat menyeimbangkan dampak negatif dari perjanjian TPP sampai tingkat tertentu," kata Zhang Jianping, pakar dari Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi.

China merupakan negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat. [lt]

XS
SM
MD
LG