Tautan-tautan Akses

Presiden Minta Harga Kebutuhan Pangan Terus Dipantau

  • Iris Gera

Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil didampingi Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel (kiri) dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kanan) menjelaskan soal harga beras di Istana Negara, 4 Maret 2015 (Foto: VOA/Iris Gera)

Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil didampingi Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel (kiri) dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kanan) menjelaskan soal harga beras di Istana Negara, 4 Maret 2015 (Foto: VOA/Iris Gera)

Presiden berharap, kedepannya nanti inflasi akan rendah bahkan terjadi deflasi seperti halnya pada bulan Januari dan Februari 2015, masing-masing sebesar 0,24 persen dan 0,36 persen.

Saat membuka sidang kabinet di Istana Negara, Rabu (4/2), Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah harus terus berupaya menekan inflasi sehingga daya beli masyarakat terus meningkat. Oleh sebab itu harga-harga kebutuhan pangan juga harus stabil, dan presiden meminta kenaikan harga beras akhir-akhir ini tidak terulang.

Presiden berharap, kedepannya nanti inflasi akan rendah bahkan terjadi deflasi seperti halnya pada bulan Januari dan Februari 2015, masing-masing sebesar 0,24 persen dan 0,36 persen. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi terjadi akibat penurunan harga bahan bakar minyak atau BBM.

“Kita patut bersyukur bahwa Januari, Februari terjadi deflasi, kalau ini bisa kita pertahankan, bisa kita tekan terus sehingga inflasi pada posisi-posisi sangat rendah. Isya Allah akan memberikan dampak yang baik terhadap pertumbuhan ekonomi, terhadap daya beli dan keringanan masyarakat dalam membeli barang-barang yang ada," kata Presiden Jokowi.

"Oleh sebab itu saya minta terutama hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pokok, sembako betul-betul dipantau, dilihat dari hari ke hari karena dari situlah sebetulnya tinggi rendahnya inflasi itu dimulai, sebagai contoh beras mengalami kenaikan tidak sedikit, sebetulnya pada bulan Desember itu sudah kelihatan dan bisa diantisipasi, bulan Januari sebetulnya juga sudah bisa dilakukan tindakan-tindakan,” lanjutnya.

Menurut Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, untuk menekan harga beras yang belum stabil sampai saat ini, Badan Urusan Logistik atau Bulog akan terus diberdayakan.

Upaya tersebut ditegaskan Menko, Bulog harus menggelontorkan stok beras ke pasar-pasar dalam jumlah besar dan menyalurkan beras untuk masyarakat miskin atau raskin tepat waktu.

“Ini kita bicara akan panen, tadi angka-angka awal itu cukup bagus, oleh sebab itu yang penting bagaimana bulan ini semua kewajiban Bulog dilaksanakan, raskin digelontorkan, operasi pasar yang sedang berjalan dilanjutkan, ini sudah mulai panen, puncak Maret-April. Dengan demikian, begitu supply sudah banyak di pasar, harga itu akan mencapai kestabilan baru," kata Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil.

"Tentang harga beli baik gabah maupun beras harus kita hitung kembali, baik meningkatnya produksi pertanian maupun akibat inflasi yang terjadi, kemudian Bulog akan melaksanakan pembelian untuk cadangan stok nasional sekitar 2,7 juta ton sampai dengan tiga juta ton yang akan diambil tahun ini," lanjutnya.

Kenaikan harga beras puncaknya terjadi dalam dua minggu terakhir dan kenaikan hingga sekitar Rp 3.000 per kilogram. Menyikapi kondisi tersebut, pekan lalu Presiden Joko Widodo juga melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke gudang Bulog dan menginstruksikan agar Bulog tidak menahan stok beras di gudang.

Sementara menurut Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, beberapa daerah sudah mengalami panen sehingga dalam waktu dekat harga beras akan stabil.

“Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, minggu lalu kami panen disana kurang lebih 200 ribu hektar dan itu produksi diperkirakan 1,4 juta ton,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

XS
SM
MD
LG