Tautan-tautan Akses

Presiden Yudhoyono Lantik Dino Patti Djalal Jadi Wamenlu


Presiden Yudhoyono dan ibu negara, Ani Yudhoyono menyambut kedatangan Dino Patti Djalal dan ibu Rosa di Istana Negara (14/7). Presiden Yudhoyono melantik mantan Dubes Indonesia di AS tersebut sebagai Wamenlu (Foto: VOA/Andylala).

Presiden Yudhoyono dan ibu negara, Ani Yudhoyono menyambut kedatangan Dino Patti Djalal dan ibu Rosa di Istana Negara (14/7). Presiden Yudhoyono melantik mantan Dubes Indonesia di AS tersebut sebagai Wamenlu (Foto: VOA/Andylala).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (14/7), melantik mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, sebagai Wakil Menteri Luar Negeri di Istana Negara Jakarta.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal di Istana Negara Jakarta, Senin (14/7). Pengangkatan ini berdasarkan surat keputusan presiden, seperti yang dibacakan oleh Deputi Administrasi Sekretariat Kabinet, Djatmiko.

"Surat keputusan Presiden dengan nomor 103/M/2014. Tentang pemberhentian dan pengangkatan Wakil Menteri Luar Negeri. Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Presiden RI mengangkat saudara Dino Patti Jalal selaku Wakil Menteri Luar Negeri. Terhitung mulai saat pelantikan. Ditetapkan di Jakarta 11 Juli 2014. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono," kata Djatmiko.

Usai acara pelantikan, Dino menjelaskan bahwa tugas utamanya adalah membantu Menteri Luar Negeri dalam tiga hingga empat bulan menjelang akhir pemerintahan kabinet Indonesia bersatu.

"Saya diangkat sebagai Wakil Menlu untuk membantu Presiden dan Menteri Luar Negeri. Dan untuk tiga hingga empat bulan kedepan, agenda diplomatik cukup banyak. Dan saya juga akan membantu Presiden dan Menlu untuk menjamin agar transisi (oleh pemerintah beberapa bulan kedepan dan Presiden berikutnya) berjalan dengan baik terutama di bidang luar negeri. Karena selama ini yang menjadi aset bagi pembangunan dan keamanan Indonesia adalah faktor dukungan dan kepercayaan dari masyarakat internasional," kata Dino Patti Djalal.

Dino juga bertekad menjadikan Indonesia sebagai negara pusat perdagangan (Trading Nation). "Saya ingin sekali melihat Indonesia menjadi negara dagang. Trade Trading Nation. Seperti Korea Selatan atau China misalnya. Ini merupakan tantangan bangsa kita. Bagaimana kita bisa menjadi negara produsen dan negara ekspor yang besar," kata Dino.

Dino juga memastikan akan aktif menggalang Diaspora Indonesia untuk dijadikan kekuatan ekonomi sosial.‎ Ia meyakini, dengan adanya kekuatan itu, maka posisi diplomatik Indonesia akan meningkat.

"Agustus mendatang akan ada Kongres Diaspora Indonesia di New Orleans AS. Saya ingin terus aktif untuk menggalang diaspora Indonesia di seluruh dunia, agar menjadi suatu kekuatan ekonomi sosial dan juga diplomatik yang relevan bagi Indonesia," lanjutnya.

Dikutip dari situs www.setkab.go.id, Dino Patti Djalal dilahirkan dalam sebuah keluarga diplomatik pada 10 September 1965 di Beograd, Yugoslavia. Dino merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, pasangan Hasjim Djalal dan Jurni yang berasal dari Ampek Angkek, Agam Sumatera Barat. Ayahnya, Profesor Hasjim Djalal, adalah mantan Duta Besar Indonesia untuk Kanada dan Jerman, dan pakar internasional tentang hukum laut.

Pada 1987, Dino memulai karir di Departemen Luar Negeri. Ia pernah ditunjuk sebagai Juru Bicara Satuan Tugas Pelaksana Penentuan Pendapat di Timor Timur pada 1999. Lalu Kepala Departemen Politik KBRI Washington, dan Direktur Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri.

Pada 2004 hingga 2009, Dino menjabat sebagai Juru Bicara Presiden SBY bidang luar negeri, bersama Andi Mallarangeng (Jubir Presiden Dalam Negeri). Lalu pada 2010 ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.

Pada 2014, Dino maju sebagai peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat, sebelum ditunjuk untuk memangku jabatan sebagai Wamenlu, menggantikan posisi Wardhana yang mendapatkan penugasan sebagai Dubes RI di Turki.

XS
SM
MD
LG