Tautan-tautan Akses

Presiden Yudhoyono Hadiri KTT ASEAN ke-16

  • Wella Sherlita

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi Ibu Negara, Ani Yudhoyono, pada Rabu siang bertolak menuju Hanoi, Vietnam, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi - KTT ASEAN ke-16, yang akan berlangsung pekan ini.

Konferensi Tingkat TInggi (KTT) ASEAN ke-16 akan berlangsung di Hanoi, Vietnam, dari hari Kamis hingga Jumat. Sejumlah isu yang akan dibahas dalam KTT, antara lain perubahan iklim dan situasi politik di ASEAN.

Di Hanoi, Presiden SBY juga akan bertemu dengan Majelis Antar Parlemen ASEAN, serta menyaksikan penandatanganan deklarasi pemulihan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan atau Joint Declaration on Economic Recovery and Sustainable Development, serta deklarasi di bidang perubahan iklim atau Joint Response on Climate Change.

Pada pembukaan sidang kabinet, Senin, SBY mengatakan dalam pertemuan itu, ia akan menyampaikan isu kejahatan di perbatasan, seperti penyelundupan manusia, perdagangan narkoba, dan terorisme.

“Indonesia mengangkat satu isu yang kita perlu kerja sama dengan baik yaitu cross-border crimes atau transnational crimes, " ujar Presiden. "Menurut saya perlu dilakukan kerjasama dan kemitraan yang lebih efektif lagi, misalnya people smuggling (penyelundupan manusia), drug trafficking (perdagangan narkotika), terorisme, ini perlu diangkat lebih serius." Menurut SBY, jangan sampai Indonesia tidak punya kerangka kerjasama yang baik untuk menangani masalah-masalah tersebut.

Selama ini banyak kepentingan regional yang belum menyatu dengan kebijakan nasional dari masing-masing negara anggota ASEAN sendiri. Untuk bidang keamanan, kelompok Noordin M. Top merancang dan melakukan aksi kejahatan di Indonesia bertahun-tahun, namun Malaysia tidak bersedia ikut campur, meskipun Noordin adalah warga negaranya. Hal ini seperti ditegaskan Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman, ketika ke Jakarta, tahun lalu.

Seorang peneliti senior di bidang keamanan internasional dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, kepada VOA, Rabu sore berpendapat tidak selamanya ASEAN dapat berdiam diri, karena pergerakan kelompok radikal tidak terduga-terduga. Apalagi, jaringan terorisme regional terbentang mulai Mindanao, Filipina hingga Jawa Barat, dan pernah melibatkan warga negara Malaysia.

“Sekarang masalahnya kebetulan Indonesia yang menjadi korban dari serangan terorisme tersebut, tetapi bagaimana kalau nanti Malaysia yang menjadi korban dan pelakunya kalau bukan warga Indonesia, (maka) warga Filipina atau Thailand?”

Ikrar menambahkan, sudah ada kerjasama di perbatasan yang dimiliki misalnya antara Indonesia dan Filipina, ataupun kerjasama kepolisian ASEANAPOL, yang menurut penilaian Ikrar harus diperkuat peranannya.

“Antara Indonesia dan Filipina ada kerjasama untuk mencegah people smuggling dan illicit weapon (senjata) smuggling, itu yang terjadi misalnya antara Filipina Selatan dan Indonesia, termasuk untuk di Maluku.”

Pertemuan tingkat menteri-menteri ASEAN telah lebih dahulu berlangsung sebelum KTT dimulai.

XS
SM
MD
LG