Tautan-tautan Akses

Presiden Yaman Perintahkan Penangkapan Kepala Suku yang Dalangi Pemberontakan

  • Elizabeth Arrott

Kepala suku Hashid, Sadeq al-Ahmar, menjadi orang yang paling dicari di Yaman setelah Presiden Ali Abdullah Saleh mengeluarkan surat penangkapannya.

Kepala suku Hashid, Sadeq al-Ahmar, menjadi orang yang paling dicari di Yaman setelah Presiden Ali Abdullah Saleh mengeluarkan surat penangkapannya.

Presiden Ali Abdullah Saleh menyerukan penangkapan kepala suku yang berpengaruh yang warganya bentrok dengan pasukan pemerintah sejak berhari-hari lalu.

Perintah untuk menangkap Sadiq al-Ahmar dikeluarkan pada hari keempat bentrokan hebat antara etnis Hashid, pendukung al-Ahmar, dan pasukan pemerintah menggoncang Sana’a.

Pejabat-pejabat pemerintah menuduh Sadiq al-Ahmar dan para pendukungnya melancarkan pemberontakan bersenjata. Saudara laki-lakinya, Hussein al-Ahmar, mengatakan, pemerintahlah yang melakukan penyerangan.

Hussein al-Ahmar, berbicara di televisi al-Hura yang didanai pemerintah Amerika, mengatakan Presiden Saleh tidak lagi punya wewenang untuk mengeluarkan perintah atau pun melakukan penangkapan terhadap pendukung al-Ahmar. Ia mengatakan Presiden sudah kehilangan wewenang.

Pertempuran di jalan-jalan dalam beberapa hari terakhir ini dan bentrokan antar etnis menandai peningkatan tajam kerusuhan. Sebagian penduduk Sana’a mengungsi, sementara kedutaan besar Amerika memerintahkan semua pegawai yang tidak penting agar meninggalkan negeri itu.

Puluhan orang dilaporkan tewas dalam bentrokan semalam, sementara puluhan lainnya katanya tewas dalam bentrokan beberapa hari sebelumnya.

Etnis Hashid, adalah salah satu kelompok yang paling berpengaruh di Yaman. Presiden Saleh sendiri berasal dari etnis itu. Dalam empat bulan kerusuhan para pemimpin etnis itu berpihak pada demonstran anti-pemerintah yang tujuan awalnya adalah untuk mendesakkan reformasi, tetapi sekarang mereka menginginkan agar Presiden Saleh yang telah berkuasa lebih dari tiga dasawarsa mengundurkan diri.

Presiden Saleh mengatakan negara itu akan terseret ke dalam perang saudara jika ia mundur. Tetapi, selagi bentrokan menghebat, para pemrotes hari Kamis terus berdemonstrasi.

Demonstran terus menuntut agar Presiden Saleh mundur. Presiden Saleh sudah tiga kali mengatakan bersedia menyerahkan kekuasaan, seperti yang disepakati dengan Dewan Kerjasama Teluk, tetapi setiap kali urung melakukannya pada saat-saat terakhir, seperti yang terjadi hari Minggu lalu.

Demonstran yang mendapat ilham dari kerusuhan di Mesir dan Tunisia, tetap bertahan di jaln-jalan, meskipun gerakan mereka dihalangi, seperti yang terjadi di Suriah dan Bahrain.

Tetapi, Presiden Saleh mengatakan prakarsa itu pertama-tama memerlukan kerangka untuk dapat dilaksanakan. Banyak penentang Presiden Saleh yakin ia hanya mengulur waktu, berharap perpecahan yang timbul akan membenarkan pernyataannya bahwa hanya dia yang dapat menjamin stabilitas.

Pendukung-pendukung utamanya, termasuk Presiden Amerika Barack Obama, menghimbaunya minggu ini agar memenuhi janjinya mengenai peralihan kekuasaan. Hari Kamis, Menteri Luar Negeri Amerika Hillary Clinton mengatakan Presiden Saleh berulang kali mengingkari janji untuk mundur. Clinton mengatakan Amerika dan sekutu-sekutunya berupaya mendongkelnya.

XS
SM
MD
LG