Tautan-tautan Akses

Presiden Terpilih Jokowi Hadapi Tantangan dari Partai Sendiri


Presiden terpilih Joko "Jokowi" Widodo dalam sebuah wawancara di Jakarta (10/7). (Reuters/Darren Whiteside)

Presiden terpilih Joko "Jokowi" Widodo dalam sebuah wawancara di Jakarta (10/7). (Reuters/Darren Whiteside)

Ada risiko tarik menarik kekuasaan di dalam PDI-P yang dapat mengacaukan agenda Jokowi di parlemen, tempat Puan Maharani menjadi pemimpin partai.

Setelah memenangkan pemilihan presiden yang paling ketat dalam sejarah Indonesia, Joko "Jokowi" Widodo sekarang menghadapi pertempuran yang barangkali paling sulit, yaitu memenangkan partainya sendiri.

Untuk melakukannya, ia harus berurusan dengan Puan Maharani, putri mantan presiden Megawati Sukarnoputri, yang ambisius secara politik dan tokoh berkuasa dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang dipimpin ibunya dan yang mendorong Jokowi ke istana presiden.

Bagi beberapa pihak, ada risiko tarik menarik kekuasaan di dalam partai pemenang pemilihan legislatif tersebut yang dapat mengacaukan agenda Jokowi di parlemen, tempat Puan menjadi pemimpin partai.

"Kepemimpinan PDI-P masih belum bersatu dalam dukungan mereka," menurut orang dalam partai, yang seperti sebagian besar pejabat partai menolak disebutkan namanya karena sensitivitas isu ini, mengenai dukungan untuk Jokowi.

"Puan memang memiliki pengikut...tentu saja, mereka terancam oleh seseorang seperti Jokowi."

Meski partai menampilkan kesan bersatu di depan umum, di belakang, kecurigaan mengemuka, menurut para orang dalam.

Banyak orang-orang lama di dalam partai secara ogah-ogahan mendukung Jokowi sebagai kandidat presiden setelah Megawati, yang sadar peluangnya untuk menang pilpres kali ini hampir nol, mengesampingkan ambisinya dan menawarkan nominasi pada Gubernur Jakarta yang sangat populer itu.

Pertikaian dan kemenduaan dalam partai membuat partai tidak mendapat suara yang diinginkan dalam pemilu legislatif, meski masih menjadi pemenang.

Usai pemilu legislatif April, Jokowi menyatakan kekecewaannya secara publik atas hasil tersebut dan bagaimana kampanye dijalankan. Media melihat hal itu sebagai tanda ketegangan antara kandidat presiden dengan Puan, yang menjalankan kampanye.

Namun Jokowi, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Reuters, menyangkal adanya konflik dengan Puan: "Dalam partai kami ada banyak dinamika politik. Saya kira itu normal."

Pejabat PDI-P lainnya tidak menanggapi permintaan untuk dimintai komentar.

Meski menyangkal ada perseteruan, Jokowi sepertinya akan mengawasi bahaya yang datang dari partainya sementara bersiap memulai masa jabatan lima tahun pada Oktober, sambil juga mengawasi perlawanan dari oposisi.

"Jokowi perlu menjamin ia tidak akan ditantang oleh partainya sendiri di parlemen untuk memperjuangkan anggaran dan kebijakan," ujar Phillips Jusario Vermonte, analis politik dari lembaga pemikiran di Jakarta CSIS.

"Ia perlu menjamin bahwa ia memiliki kontrol penuh dalam partai."

Pengikut Setia

Seperti Rahul Gandhi untuk Partai Kongres di India, Puan oleh banyak pihak dianggap sebagai ahli waris yang jelas untuk PDI-P.

"Ia yakin partainya adalah milik keluarga dan ia adalah ahli waris. Ada rasa hak seperti itu," ujar orang dalam PDI-P.

Puan, 40, dilantik menjadi anggota parlemen pada 2009 dan sangat terlibat dalam kampanye pemilihan presiden yang gagal untuk ibunya pada tahun yang sama. Ia adalah wakil ketua PDI-P untuk urusan politik dan bertanggung jawab atas kampanye pemilihan legislatif tahun ini.

Fraksi Puan yakin Jokowi, 53, telah menaiki tangga politik terlalu cepat, menyeruduk loyalis-loyalis partai dalam kebangkitan yang belum pernah ada sebelumnya dari walikota Solo menjadi gubernur Jakarta menjadi presiden Indonesia dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Mereka takut tim Jokowi dan semua pendukungnya akan mendorong mereka, merombak seluruh partai, dan menyingkirkan keturunan langsung Soekarno.

"Mereka...merasa posisi-posisi mereka dapat dilindungi oleh Puan karena mereka merasa Megawati terlalu acuh tak acuh," ujar orang dalam PDI-P tersebut. "Dari situlah Puan mendapatkan kekuasaan dan kepercayaan diri."

Ketika Megawati memilih Jokowi sebagai kandidat presiden dari partai, para pendukung Puan menekannya untuk menjadi kandidat wakil presiden. Namun peran tersebut akhirnya dipegang oleh mantan wakil presiden Jusuf Kalla.

Dalam wawancara dengan Reuters, Kalla mengatakan Puan perlu membangun pengalaman politiknya dalam lima tahun ke depan sebagai menteri atau ketua parlemen. Barulah ia ada dalam posisi yang baik untuk menggantikannya sebagai pendamping Jokowi pada 2019.

Meski ada tekanan dari dalam partai, para pejabat PDI-P mengatakan sekali keputusan dibuat oleh Megawati, diskusi berakhir -- suatu hal yang mencerminkan kekuatan ketua partai.

"Jangan gambarkan seolah-olah ada friksi dalam partai," ujar anggota parlemen dari PDI-P Rieke Diah Pitaloka.

"Argumen-argumen itu biasa, terutama di dalam PDI-P. Kita bisa memiliki pertengkaran yang hebat, namun ketika instruksi datang, kita ikuti."

PDI-P akan mengadakan konvensi nasional pada Mei 2015 dan Puan diperkirakan akan mencoba menjadi ketua partai jika ibunya mundur.

Jokowi mengatakan pada Reuters dalam wawancara minggu lalu bahwa ia tidak akan mengejar posisi ketua partai.

"Hal ini baik untuk negara karena saya bukan ketua partai... pemerintah adalah pemerintah, partai adalah partai," ujarnya. (Reuters/Kanupriya Kapoor dan Randy Fabi)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG