Tautan-tautan Akses

Presiden Sudan Selatan, Pemimpin Pemberontak Serukan Dialog


Presiden Salva Kiir Senin (23/12) menegaskan bahwa ia siap berbicara dengan lawan-lawannya asalkan tidak ada prasyarat.

Presiden Salva Kiir Senin (23/12) menegaskan bahwa ia siap berbicara dengan lawan-lawannya asalkan tidak ada prasyarat.

Presiden Sudan Selatan dan lawannya, pemimpin pemberontak, telah sama-sama menyerukan dialog, untuk menangani kekerasan yang meningkat.

Berbicara di hadapan parlemen hari Senin (23/12), Presiden Salva Kiir menegaskan ia siap berbicara dengan lawan-lawannya asalkan tidak ada prasyarat.

Kantor berita Reuters melaporkan mantan wakil presiden Riek Machar mengatakan dialog dapat “langsung dimulai” jika pemerintah membebaskan sekutu-sekutu politiknya yang ditangkap pekan lalu.

Machar telah bersembunyi sejak Presiden Kiir menuduhnya memimpin upaya kudeta tanggal 16 Desember. Sejak itu, terjadi bentrokan yang telah menewaskan ratusan orang dan 60.000 orang terpaksa mengungsi.

Wartawan Hannah McNeish, yang berada di ibukota Juba, mengatakan kepada VOA bahwa pergolakan itu jelas karena alasan etnis, di mana anggota kelompok etnis Nuer dan Dinka saling menyerang. Ia mengatakan, "Mereka mendatangi rumah satu persatu, mencari orang etnis tertentu, Kemudian menyeret mereka dari rumahnya, tangannya diikat, dan dieksekusi jika mereka ternyata dari etnis tertentu. Ini benar-benar tidak terkendali."

Selama beberapa hari, para pejabat PBB telah menyatakan keprihatinan atas perpecahan antara Presiden Kiir, dari etnis Dinka, dan Wapres Machar, beretnis Nuer, yang bisa memprovokasi kekerasan antar suku. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon hari Senin mengatakan semakin khawatir melihat situasi di Sudan Selatan.

Tentara yang diyakini bersekutu dengan Machar telah mengambil alih ibukota Sudan Selatan Unity dan ibukota negarabagain Jonglei.
XS
SM
MD
LG