Tautan-tautan Akses

Presiden SBY: Prospek Industri Tekstil Indonesia Masih Cerah

  • Yudha Satriawan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: dok).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: dok).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan perluasan pabrik tekstil Sari Warna Asli, Sritex Grup, di Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (15/3).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan pemerintah terus menggenjot industri tekstil menjadi andalan bagi Indonesia. Menurut Presiden, industri tekstil menyerap tenaga kerja dan andalan ekspor Indonesia. Hal ini disampaikan Presiden SBY saat meresmikan perluasan Pabrik Tekstil, Sari Warna Asli, Sritex Grup, di Boyolali, Sabtu (15/3).

“Penduduk Indonesia saat ini sekitar 240 juta jiwa, dalam waktu 5- 10 tahun akan terus meningkat dan diperkirakan mencapai 260 juta jiwa. Semua pasti membutuhkan sandang, golongan menkonsumsi sandang, produk tesktil dan garmen. Karena daya beli masyarakat meningkat, industri tekstil ini yang meproduksi sandang, memiliki prospek bagus di masa depan," kata Presiden SBY.

Pada tingkat global, menurut Presiden, industri sandang tidak hanya berkembang di negara-negara Eropa, Amerika, dan Jepang, tetapi juga di kawasan Tengah dan Selatan, termasuk Indonesia meningkat tajam.

Sementara itu, Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengungkapkan pertumbuhan industri tekstil di Indonesia terus melonjak. “Industri TPT yaitu tekstil dalam waktu 5 tahun terakhir rata-rata mengalami pertumbuhan 6,2 persen. Pada tahun 2013 nilai ekspor produk tekstil mencapai 12, 64 miliar dolar Amerika Serikat. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, maka peningkatan daya saing merupakan kata kunci yang harus diperhatikan agar industri tekstil nasional dapat terus meningkatkan eksistensi baik di pasar domestik maupun internasional,” kata MS HIdayat.

Juru bicara Sritex Grup, Iwan Setiawan Lukminto menyatakan produksi tekstil di perushaannya tersebut terus melonjak hingga dua kali lipat. “PT Sari warna Asli, Sritex Group ini terus berkembang menjadi industri yang terintegrasi, dari benang sampai pakaian jadi, unit pemintalan atau spinning yang semula kapasitas produksi hanya 470 sekarang menjadi 1300 per bulan. Sedangkan unit pertenunan atau weaving kapsitas produksinya meningkat menjadi 10 juta yards yang semula hanya 6 juta per bulan," kata Iwan Setiawan Lukminto.

"Unit dying, printing dan finishing juga semula produksi hanya 8 juta yards per bulan melonjak menjadi 14 juta per bulan. Dengan meningkatnya kapasitas produksi semua unit tersebut, ekspor produk kami yang dulu hanya tiga negara sekarang menjadi 18 negara di dunia,” lanjutnya.

Selain peresmian perluasan kawasan Pabrik tekstil tersebut, Presiden SBY juga melepas ekspor tekstil tersebut ke Brazil.

Dari Solo, Yudha Satriawan, melaporkan untuk VOA Washington
XS
SM
MD
LG