Tautan-tautan Akses

Obama, Castro Berjabat Tangan untuk Pertama Kalinya di Panama

  • Luis Ramirez

Presiden Barack Obama (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Raul Castro untuk pertama kalinya, disaksikan oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon (kanan) sebelum berlangsungnya KTT Negara-negara Amerika ke-7 di Panama City, 10 April 2015. (REUTERS/Panama Presidency/Handout via Reuters)

Presiden Barack Obama (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Raul Castro untuk pertama kalinya, disaksikan oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon (kanan) sebelum berlangsungnya KTT Negara-negara Amerika ke-7 di Panama City, 10 April 2015. (REUTERS/Panama Presidency/Handout via Reuters)

Pemerintahan Obama telah menyatakan keprihatinan serius mengenai insiden di depan kedutaan Kuba, tapi Presiden Obama yakin hubungan kedua negara akan mengarah pada kebebasan lebih besar bagi rakyat Kuba.

Presiden Amerika Barack Obama telah bertemu dan berjabat tangan dengan pemimpin Kuba Raul Castro untuk pertama kali sejak mengumumkan niatnya bulan Desember lalu untuk menormalkan hubungan dengan negara Kuba yang komunis. Pertemuan singkat itu terjadi dalam KTT Negara-negara Amerika hari Jumat di Panama. Jabat tangan tersebut akan dilanjutkan dengan percakapan yang lebih substantif antara kedua pemimpin itu hari Sabtu (11/4).

Misi Presiden Obama dalam KTT ini adalah untuk menekankan tawarannya kepada Kuba, tetapi adegan-adegan mengenai para pendukung Castro yang menyerang pembangkang Kuba di luar Kedutaan Besar Kuba di Panama sebelum kedatangan Presiden Obama di sana sangat bertolak belakang dengan semangat keterlibatan dan dialog yang ingin diwujudkannya.

Adegan-adegan itu tidak menyurutkan rencana Presiden Obama untuk melibatkan Kuba, yang disambutnya hari Jumat dalam pertemuan para pemimpin masyarakat madani.

“Saya gembira bahwa Kuba diwakili bersama kami dalam pertemuan ini untuk pertama kalinya,” sambut Presiden Barack Obama.​

Iris Tamara Perez Aguilera melakukan perjalanan ke Panama City dari Kuba dan ia adalah salah seorang pembangkang yang dipukuli oleh para pendukung Castro. Hari Jumat, ia mempertanyakan langkah Presiden Obama berhubungan dengan para pemimpin Kuba.

“Dia ingin memperlunak sikapnya terhadap rezim Havana, tapi bukti apa lagi yang diinginkannya bahwa rezim Havana terdiri atas para pembunuh dan diktator?,” ujar Iris Tamara Perez Aguilera.

Pemerintahan Obama telah menyatakan keprihatinan serius mengenai insiden di depan kedutaan Kuba itu, tapi Presiden Obama yakin hubungan antara kedua negara lambat laun akan mengarah pada kebebasan lebih besar bagi rakyat Kuba.

“Sementara kita bergerak menuju proses normalisasi, kita akan menghadapi perbedaan-perbedaan pada tataran pemerintah dengan pemerintah Kuba mengenai banyak isu, seperti halnya sekali waktu kita berbeda pendapat dengan negara-negara lain di kawasan Amerika, sama halnya kita berbeda dengan sekutu terdekat kita. Hal demikian wajar-wajar saja,” kata Presiden Obama.

Isyarat pertama yang terlihat mengenai perbaikan hubungan itu terjadi hari Jumat ketika kedua pemimpin tiba di arena upacara pembukaan KTT, berjabat tangan dan saling menyapa sejenak, yang menandakan apa yang diharapkan oleh Presiden Obama sebagai babak baru dalam hubungan Amerika dengan musuh lamanya itu.

XS
SM
MD
LG