Tautan-tautan Akses

Presiden Obama akan Bertemu Presiden Iran di New York Pekan Depan


Kantor pusat PBB di New York, 24 Maret 2008 (Foto: dok). Presiden Obama diperkirakan akan bertemu dengan presiden Iran untuk pertama kalinya di New York di sela-sela pelaksanaan Sidang Umum PBB pekan depan.

Kantor pusat PBB di New York, 24 Maret 2008 (Foto: dok). Presiden Obama diperkirakan akan bertemu dengan presiden Iran untuk pertama kalinya di New York di sela-sela pelaksanaan Sidang Umum PBB pekan depan.

Presiden Amerika Serikat dan Presiden Iran diperkirakan akan bertemu pekan depan untuk pertamakalinya, yang menjadi langkah simbolis penting menuju proses pemulihan ketegangan dalam hubungan antar kedua negara.

Surat menyurat antara kedua presiden telah meningkatkan harapan bagi perbaikan hubungan antar negara, dan setiap kemajuan dalam penghancuran senjata kimia Suriah dapat menjadi tanda apakah iktikad diplomasi Washington dan Teheran akan bertahan lama.

Dalam langkah-langkah kecil dan pernyataan-pernyataan yang membesarkan hati, presiden Iran Hassan Rouhani tampaknya membuka pintu lebih lebar bagi perbaikan hubungan. Washington yang optimistis namun skeptis menelaah apakah isyarat-isyarat presiden Rouhani akhir-akhir ini merupakan kebijakan baru atau sekedar kebijakan lama yang dibungkus kemasan baru.

Presiden Obama dan presiden Rouhani akan berada di New York untuk menghadiri sidang tahunan Majelis Umum PBB pekan depan. Gedung Putih tidak mengesampingkan kemungkinan pertemuan langsung antara keduanya, meskipun juru bicara Gedung Putih mengatakan bahwa belum ada pertemuan yang dijadwalkan.

Obama sejak lama menyatakan sikap terbuka bagi diskusi dengan presiden Iran, jika Teheran menunjukkan bahwa Iran serius mengenai niatnya meninggalkan program nuklir. Iran berkeras program nuklirnya bertujuan damai, tetapi negara-negara Barat khawatir Iran berusaha membuat senjata nuklir.

Sebelumnya, Presiden Iran yang baru terpilih Hassan Rouhani menganjurkan penggunaan dialog konstruktif untuk menyelesaikan masalah global seperti perang dan terorisme.

Dalam artikel opini pada harian Washington Post, Rouhani menulis pendekatan konstruktif untuk diplomasi bukan berarti melepaskan "hak kita", melainkan berdialog dengan pihak lain untuk membicarakan kepentingan bersama dan mencapai tujuan bersama.

Menurut Rouhani, hasil yang menguntungkan kedua belah pihak akan dapat dicapai melalui dialog. Ia menyatakan bahwa 'unilateralisme' sering mengganggu pendekatan konstruktif.

Presiden Iran itu menulis bahwa politik internasional bukan lagi “menguntungkan satu pihak dengan merugikan pihak lain,” melainkan satu gelanggang multi-dimensi dimana kerjasama dan persaingan dapat terjadi secara serentak.

Rouhani menulis artikelnya hanya beberapa hari sebelum ia tampil sebagai presiden di panggung dunia, ketika ia menghadiri Majelis Umum PBB di New York.
XS
SM
MD
LG