Tautan-tautan Akses

Presiden Mesir Puji Demokrasi dan Islam di Indonesia, Serta Pemberantasan Terorisme


Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi (kiri) bersama Presiden Joko Widodo (kanan), Jakarta, 4 September 2015.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi (kiri) bersama Presiden Joko Widodo (kanan), Jakarta, 4 September 2015.

Sejumlah isu dibahas dalam pertemuan antara Presiden Jokowi dan Presiden Abdel Fatah al-Sisi di antaranya peningkatan perdagangan dan investasi, serta upaya kedua negara untuk memajukan Islam yang damai dan perlawanan terhadap aksi terorisme.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima kunjungan kenegaraan Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi, di Istana Merdeka Jakarta Jumat (4/9) sore. Presiden Jokowi mengatakan bahwa Presiden Mesir Abdul Fatah Al-Sisi ingin belajar dari Indonesia cara mengembangkan demokrasi. Presiden Mesir menilai Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dan sekaligus negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

"Kami juga bertukar pikiran mengenai memajukan demokrasi dan Islam yang rahmatan lil alamin. Termasuk di dalamnya kami juga berbicara mengenai masalah yang berkaitan dengan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme," kata Presiden Jokowi.

Presiden Mesir Abdel Fatah Al-Sisi menyampaikan penghargaannya atas kerjasama penanggulangan terorisme antar kedua negara.

"Izinkan, kami ingin menyampaikan kehormatan kami dari Presiden dan masyarakat Indonesia yang telah menerima kunjungan kami. Kami tadi membahas banyak hal di antaranya perkembangan situasi di Timur Tengah dan Asia Timur. Kami sepakat untuk peningkatan kerjasama hubungan bilateral kedua negara khususnya untuk pemberantasan terorisme," ujarnya.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, Presiden Mesir Al-Sisi mengapresiasi keberhasilan Indonesia dalam mengembangkan demokrasi.

Retno menambahkan, "Presiden Mesir mengatakan bahwa Mesir ingin belajar dari Indonesia bagaimana mengembangkan demokrasi di Indonesia. Karena Indonesia berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Dan pada saat yang sama Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia."

Dalam kerjasama pemberantasan tambah Retno, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah memberikan pelatihan tekhnis bersama kepada pihak keamanan di Mesir.

"BNPT sudah melakukan kunjungan ke Mesir dan juga akan menindaklanjuti. Kerjasama untuk anti terorism dan anti radicalism biasanya dilakukan dengan sharring information. Yang kedua adalah sharring base practism dari kasus-kasus yang dihadapi kedua negara. Dan juga biasa kita lakukan dengan pelatihan-pelatihan. Jadi banyak sekali kerjasama yang memungkinkan kita lakukan dalam konteks untuk combating terorism, ekstremism dan lain-lain yang bisa kita lakukan untuk Indonesia dan Mesir," ujarnya.

Perlindungan WNI

Kepada Presiden Mesir Abdel Fatah Al-Sisi, Presiden Jokowi meminta agar Pemerintah Mesir melindungi warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Mesir, dalam hal ini adalah para pelajar dan buruh migran.

"Pemerintah Indonesia meminta mohon perlindungan bagi warga negara Indonesia yang berada di Mesir. Karena jumlah mahasiswa ada kurang lebih 3000 orang, buruh migran Indonesia ada sekitar 1200 orang. Dan yang mulia tadi menyanggupi untuk itu," katanya.

Di bidang investasi Presiden Jokowi juga menyampaikan adanya peningkatan kerjasama khususnya investasi dari Indonesia dapat dilindungi dan mendapatkan berbagai kemudahan ke depannya.

Menlu Retno mengatakan Mesir merupakan salah satu mitra utama Indonesia di kawasan Afrika dengan nilai total perdagangan Indonesia-Mesir pada 2014 mencapai 1,49 miliar dollar AS, dengan surplus sebesar 1,2 miliar dollar AS untuk Indonesia.

Selama lima tahun terakhir (2010-2014) tren perdagangan kedua negara tercatat sebesar 4,1%. Nilai ekspor Indonesia ke Mesir pada periode Januari-Februari 2015 tercatat sebesar 209,25 juta dollar AS. Sementara nilai impor Indonesia tercatat sebesar 14,80 juta dollar AS, sehingga pada periode tersebut Indonesia surplus 194,44 juta dollar AS. Produk ekspor utama Indonesia ke Mesir meliputi emas, kabel dan konduktor listrik, furnitur, bahan tekstil, pakaian jadi, buah segar, dan tembaga.

Dalam pertemuan kedua kepala negara itu, ada dua nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani yaitu terkait bebas visa untuk diplomatik, dan kerjasama untuk pelatihan diplomatik. Sebelum ke Indonesia, Presiden Fattah al Sisi melakukan kunjungan kenegaraan ke China dan Singapura.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG