Tautan-tautan Akses

Presiden Korsel: Tak Ada Pilihan Lain Kecuali Perundingan 6 Pihak


Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak mengumumkan posisi barunya setelah menerima laporan Kementerian Luar Negeri mengenai prospek tahun yang baru.

Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak mengumumkan posisi barunya setelah menerima laporan Kementerian Luar Negeri mengenai prospek tahun yang baru.

Ucapan Presiden Lee Myung-bak ini menandai perubahan kebijakan Korea Selatan, yang sebelumnya selalu menolak perundingan tersebut.

Presiden Korea Selatan mengisyaratkan perubahan dalam posisinya dalam pembicaraan dengan Korea Utara. Presiden Lee Myung-bak hari Rabu menyatakan keinginannya untuk berdialog dengan Pyongyang, dan mengatakan sikap keras militer Seoul saja tidak akan mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea.

Lee juga mengatakan perundingan internasional untuk melucuti program senjata nuklir Korea Utara perlu diupayakan kembali tahun depan.

Presiden Lee mengatakan adalah penting tahun depan, melalui pembicaraan enam pihak, untuk meraih kemajuan dalam membujuk Pyongyang untuk mengakhiri ambisi nuklirnya supaya menjadi negara yang “besar, kuat dan makmur” tahun 2012.

Sejak Korea Utara menembaki sebuah pulau di Korea Selatan bulan lalu, komentar-komentar publik Lee berpusat pada pencegahan provokasi lebih jauh melalui kesiagaan militer dan kesatuan nasional. Militer Korea Selatan melakukan serangkaian latihan perang untuk menunjukkan sikapnya itu.

Choi Jin-wook, direktur Pusat Studi Kerjasama Korea Selatan-Utara pada Institut Unifikasi Nasional di Seoul mengatakan, “Ini waktunya bagi kita untuk membicarakan masalah nuklir dalam format pembicaraan enam pihak. Jadi ini berdasarkan kerjasama erat antara Washington dan Seoul, dan Jepang.”

Perundingan enam pihak dimulai tahun 2003, namun mengalami kemacetan sejak tahun 2008.

Perundingan enam pihak dimulai tahun 2003, namun mengalami kemacetan sejak tahun 2008.

Tiongkok mendesak segera dimulainya pembicaraan yang terhenti setelah penyerangan terhadap pulau Yeonpyeong. Tetapi Seoul, Tokyo dan Washington menentang keras, dan mengatakan Pyongyang seharusnya tidak dimaafkan atas keagresifannya.

Pembicaraan tersebut, yang juga mencakup Rusia, bertujuan mendesak Korea Utara mengakhiri program senjata nuklirnya, dengan imbalan konsesi ekonomi dan diplomatik.
Perundingan itu dimulai tahun 2003 dan menemui kegagalan tahun 2008.

Sejak itu Korea Utara telah melakukan berbagai uji coba misil dan nuklir. Awal tahun ini, Korea Utara dituduh menyerang kapal selam angkatan laut Korea Selatan di Laut Kuning. Pyongyang membantah keterlibatannya.

Ketegangan semakin meninggi dengan penembakan terhadap pulau Yeonpyeong, yang menewaskan empat warga Korea Selatan. Pyongyang mengatakan penembakan itu dilakukan karena provokasi latihan perang Korea Selatan dengan peluru tajam di laut dekat dengan perbatasan maritim yang tidak diakui Korea Utara.

XS
SM
MD
LG