Tautan-tautan Akses

Presiden Korea Selatan Kecam Kapten Kapal Feri

  • Daniel Schearf

Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye memeriksa lokasi di mana kapal feri 'Sewol' tenggelam, Kamis (17/4).

Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye memeriksa lokasi di mana kapal feri 'Sewol' tenggelam, Kamis (17/4).

Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye telah mengecam kapten dan anak buah kapal (ABK) sebuah feri karena mengabaikan kapal ketika kendaraan itu tenggelam dengan ratusan penumpangnya, menyamakan perbuatan mereka sebagai “pembunuhan.”

Kapten itu dan sedikitnya enam ABK telah ditangkap. Tim SAR sejauh ini telah menemukan 87 jenazah, dan 210 lainnya masih hilang.

Jumlah korban tewas dari feri Sewol yang tenggelam bertambah banyak hari Minggu (20/4) setelah para penyelam berhasil bergerak lebih jauh ke dalam kapal yang karam dan menemukan lebih banyak jenazah.

Presiden Korea Selatan President Park Geun-hye dalam sebuah pertemuan mengecam keras para pihak yang bertanggungjawab atas feri penumpang itu.

Park mengatakan perbuatan kapten dan sebagian ABK tidak dapat dipahami, dari sudut pandang akal sehat, dan itu sama saja dengan pembunuhan yang tidak bisa dan tidak boleh ditoleransi. Kapten itu tidak mematuhi perintah evakuasi dari Pusat Layanan Lalu Lintas Kapal Jindo segera setelah kecelakaan itu, katanya. Para ABK memberitahu para penumpang untuk tetap diam di tempat, tetapi para awak malah menyelamatkan diri sendiri. Dia mengatakan ini tidak dapat dibenarkan secara hukum dan etika.

Kapten kapal, Lee Joon-seok, dan beberapa ABK ditahan dan menghadapi dakwaan melakukan kelalaian dan melanggar UU kelautan.

Feri itu tenggelam pada hari Rabu (16/4) dengan 476 penumpang di dalamnya, sebagian besar pelajar SMA yang sedang mengikuti widyawisata. Kapal-kapal penyelamat menolong 179 orang ketika kapal itu tenggelam. Meskipun sudah dilakukan berbagai upaya, belum ada lagi yang berhasil diselamatkan sejak itu.

Berbagai upaya penyelamatan terkendala ombak besar dan air yang keruh. Serpihan-serpihan juga menghalangi para penyelam memasuki area penumpang di dalam feri sampai Sabtu malam.

Hari-hari yang penuh penantian berubah menjadi kesedihan bagi ratusan keluarga korban yang mendirikan kemah-kemah di sasana olahraga Jindo.

Adik laki-laki Kim Ha-na berada dalam feri itu, salah seorang dari 339 pelajar dan guru dari SMA Danwon di Ansan, sebelah selatan Seoul.

Kim Ha-na mengatakan tadinya dia memiliki harapan tetapi sekarang dia merasa sangat galau. Meskipun oksigen telah dipompakan ke dalam kapal, katanya, korban tidak memiliki makanan atau minuman selama enam hari. Dia bertanya-tanya apakah adiknya mungkin masih hidup.

Masih belum jelas apa yang menyebabkan kapal berbobot mati 6,300 ton itu tenggelam. Para korban selamat melaporkan mereka mendengar bunyi keras sebelum kapal mulai miring, memicu spekulasi bahwa feri itu mungkin menabrak batu di bawah laut. Tetapi para penyidik juga menyelidiki kemungkinan bahwa kargo, termasuk sejumlah besar kendaraan, terlepas sewaktu kapal itu membelok dengan tajam dan membuat feri itu kehilangan keseimbangan. Berbagai laporan media Korea Selatan mengatakan para penyidik juga menyelidiki perbaikan kapal itu baru-baru ini dan integritas strukturalnya.

Presiden Park hari Minggu (20/4) menyatakan Jindo dan Ansan sebagai zona bencana khusus untuk mempercepat upaya bantuan darurat.
XS
SM
MD
LG