Tautan-tautan Akses

Presiden Jokowi Perintahkan Menteri Terkait Segera Putuskan Pembangunan Kilang Minyak Baru


Presiden Joko Widodo berpidato di kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Jakarta, 29 Februari 2016. (Foto: VOA/Biro Pers).

Presiden Joko Widodo berpidato di kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Jakarta, 29 Februari 2016. (Foto: VOA/Biro Pers).

Presiden Jokowi di kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Jakarta, Senin (29/9) menginstruksikan agar di tahun 2016 ini sudah harus ada keputusan pembangunan kilang minyak.

Naik turunnya harga minyak dan besarnya kebutuhan minyak dalam negeri, membuat Presiden Joko Widodo kembali ingatkan menteri dan jajaran terkait, pentingnya pembangunan kilang minyak untuk penampungan serta pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar siap pakai.

Presiden Jokowi di kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Jakarta, Senin (29/9) menginstruksikan agar di tahun 2016 ini sudah harus ada keputusan pembangunan kilang minyak.

"Kemudian juga soal pembangunan kilang minyak. Saya ingatkan, sudah berapa tahun kita tidak pernah berpikir membuat kilang, membangun kilang, memperbaiki kilang yang sudah ada. Saya sampaikan kepada para menteri, tahun ini sudah diputuskan kilang harus dibangun. Buat stok di sini. Sehingga rantai pasokan kita tidak terlalu panjang. Sehingga tidak usah lewat trader-trader lagi, trading-trading lagi. Jangan ditunda-tunda," kata Presiden Jokowi.

Presiden Joko Widodo mempersilahkan jalin kerjasama dengan negara lain untuk pembangunan kilang minyak.

"Negara manapun silahkan. Mau buat di Cilacap silahkan, di Tuban silahkan, di Bontang silahkan. Atau di Indonesia bagian Timur silahkan. Bagian barat silahkan. Kebutuhan kita sangat banyak sekali," lanjut Presiden Joko Widodo.

Presiden juga mengingatkan jajaran menterinya adanya persaingan energi dan pangan dalam 20 hingga 30 tahun ke depan. Presiden meminta agar para menteri terkait menyiapkan rencana strategis menghadapi persaingan itu.

"Mulai sekarang mestinya kita harus membuat strategi besar kedepan, bagaimana energi kita dan bagaimana pangan kita. Kenapa saya sering sampaikan, fokus pada energi, fokus pada pangan, menuju ke sana infrastruktur dibangun. Energi dan pangan akan menjadi rebutan. Akan menjadi kompetisi untuk direbutkan negara-negara yang membutuhkan," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi mencontohkan penerapan strategi di bidang energi, yaitu dengan membeli minyak mentah yang saat ini harganya sedang jatuh.

"Mestinya dipikirkan. Baik itu BUMN Pertamina, baik itu kementerian. Bagaimana kita membeli dan membuat stok sebanyak-banyaknya. Terserah, stok mau ditaruh di dalam negeri atau luar negeri. Tetapi pada harga saat ini mestinya kita harus beli," pesan Presiden Jokowi.

Indonesia mengimpor banyak sekali minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), pasalnya selain kebutuhan BBM tinggi, produksi minyak dan kapasitas kilang yang dimiliki tidak cukup. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor minyak pada Maret 2014, impor hasil minyak (Bahan Bakar Minyak/BBM) mencapai US$ 2,3 miliar. Angka tersebut naik 11,51 persen atau US$ 3 juta dibandingkan dengan Februari 2014 yang mencapai US$ 2 miliar.

Jumlah kapasitas kilang terpasang di Indonesia sendiri hanya mencapai 1 juta barel per hari, sementara kebutuhan BBM di Indonesia diperkirakan mencapai 1,5 juta barel per hari

Eksploitasi Blok Masela

Presiden Jokowi kepada wartawan menjelaskan, mengenai pembangunan kilang minyak dan gas abadi Blok Masela di Provinsi Maluku masih dalam studi dan baru akan diputuskan pada 2018. Kepada Menteri ESDM dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Presiden Jokowi menegaskan, agar eksploitasi ini bermanfaat bagi wilayah Indonesia Timur.

"Keputusan investasi itu ada di 2018. Kita mempunyai waktu untuk memberikan peluang bagi investor. Apakah di darat atau di laut. Yang paling penting saya ingin bahwa eksploitasi ini nantinya ke depan itu bermanfaat bagi regional Indonesia Bagian Timur. Jangan sampai diambilin, rakyat gak dapat manfaatnya. Saya tekankan harus ada itu," jelas Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi selama ini bersikap hati-hati dalam memutuskan pembangunan kilang minyak dan gas Blok Masela di Provinsi Maluku agar tidak melanggar Undang Undang dan tidak merugikan negara.

Sekretaris kabinet Pramono Anung beberapa waktu lalu mengatakan, kehati-hatian Presiden Jokowi beralasan karena menyangkut proyek gas terbesar di dunia. [aw/ab]

XS
SM
MD
LG