Tautan-tautan Akses

Frustrasi dengan Kinerja Perekonomian, Presiden Jokowi Lobi Investor di Balik Layar


Presiden Joko Widodo

Presiden Joko Widodo

Tak puas dengan kinerja tim perekonomiannya, Presiden Joko Widodo mulai "bergerilya" mempromosikan Indonesia kepada para investor yang skeptis, menurut sejumlah pejabat istana dan para ekonom.

Menurut laporan, selama dua pekan terakhir, presiden dan penasehat-penasehat terdekatnya mengundang sejumlah manajer investasi reksadana dan pakar ekonomi terpandang sebagai bagian dari kampanye istana untuk membalikkan sentimen negatif. Sejauh ini, pertemuan-pertemuan ini belum berhasil memutarbalikkan perekonomian dan kekecewaan akan berbagai kebijakannya, kurang dari setahun masa kepresidenannya. Tapi rencananya, pertemuan ini akan berlangsung setiap bulan.

"Kita harus dapat lebih baik dalam memberi informasi kepada pasar mengenai kemajuan yang kita capai," ujar seorang pejabat istana yang menghadiri salah satu pertemuan tersebut kepada Reuters.

"Pada kenyataannya, perekonomian mencatat sejumlah kemajuan. Tapi tidak ada yang dapat melihat kemajuan itu, oleh karena itu kami mengadakan pertemuan-pertemuan seperti ini."

Presiden Jokowi terpilih sebagai presiden antara lain berkat citranya sebagai presiden yang ramah dengan dunia bisnis, dan janjinya untuk memperbaiki infrastruktur yang sudah rapuh di Indonesia. Namun kemajuan yang ingin ia raih selama ini terhambat oleh keretakan dalam tubuh partainya sendiri dan pertikaian antara lembaga pemerintahan.

Hari Senin, presiden bertemu dengan 11 ekonom dalam sebuah pertemuan tertutup untuk memaparkan berbagai pencapaian pemerintah sejauh ini, termasuk pembangunan jalan raya Trans-Sumatra.

Para ekonom mengatakan Presiden Jokowi mengatakan kepada mereka bahwa kinerja ekonomi akan membaik dalam paruh kedua tahun ini, sementara pemerintah berupaya mengatasi kemacetan dalam berbagai proyek infrastruktur yang tertunda.

Presiden juga berjanji akan lebih sering menginspeksi langsung proyek-proyek besar, seperti pembangunan kereta light rail di Jakarta, untuk memastikan proyek berlangsung sesuai jadwal.

Kepala staf kepresidenan Luhut Panjaitan mengadakan pertemuan serupa dengan hampir 20 manajer investasi, termasuk perwakilan lokal dari Deutsche Bank, Schroders dan kelompok investasi CLSA.

Namun sebagian peserta tidak merasa pertemuan tersebut membawa banyak perubahan. Karena, menurut Anton Gunawan, ekonom Bank Mandiri yang menghadiri pertemuan dengan Jokowi, "Masalahnya tidak dapat diselesaikan begitu saja."

Para undangan mengatakan presiden membutuhkan seseorang dengan "star power" di tim ekonominya yang disegani pasar dan dapat meyakinkan investor untuk tidak memindahkan modal mereka ke luar Indonesia. Beberapa di antara mereka menganjurkan presiden untuk menunjuk direktur pelaksana Bank Dunia dan mantan menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk masuk ke dalam timnya.

Tim ekonomi, yang dipimpin Menko Perekonomian Sofyan Djalil dan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, dikritik karena belum dapat banyak memperlihatkan pencapaian pemerintah.

Investor cenderung berfokus pada sisi negatif: pertumbuhan ekonomi terlemah sejak 2009, lesunya permintaan dari konsumen, tertundanya proyek-proyek pembangunan infrastruktur, meningkatnya tingkat pengangguran dan naiknya inflasi.

"Presiden berpandangan fundamental ekonomi kita baik dan yang buruk adalah persepsinya," ujar juru bicara presiden Teten Masduki.

Presiden mendapat tekanan yang semakin meningkat, terutama dari partainya sendiri dan wakil presiden, untuk melakukan reshuffle terhadap kabinet dengan alasan kinerja yang buruk.

Dalam pertemuan tertutup dengan pakar ekonomi, Presiden Jokowi "mengakui ada sejumlah masalah di kabinetnya, tapi ia tidak menyebut nama siapapun," ujar Destry Damayanti, ekonom Bank Mandiri yang juga termasuk salah satu undangan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG