Tautan-tautan Akses

Presiden Berterima Kasih kepada Pemerintah Filipina atas Pembebasan 10 WNI


Presiden Joko Widodo di Istana Bogor saat mengumumkan pembebasan 10 WNI yang menjadi sandera di Filipina (1/5). (VOA/Andylala Waluyo)

Presiden Joko Widodo di Istana Bogor saat mengumumkan pembebasan 10 WNI yang menjadi sandera di Filipina (1/5). (VOA/Andylala Waluyo)

Sepuluh warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf asal Filipina telah dibebaskan.

Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Minggu (1/5), menyambut baik pembebasan 10 warga negara Indonesia yang menjadi sandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina, dan mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang erat antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Filipina dalam upaya pembebasan para sandera.

“Alhamdulillah, akhirnya 10 ABK (anak buah kapal) WNI yang disandera oleh kelompok bersenjata sejak 206 Maret 2016 yang lalu dapat dibebaskan. Ucapan terima kasih terutama saya tujukan kepaa Pemerintah Filipina. Tanpa kerjasama yang baik upaya pembebasan tersebut tidak mungkin membuahkan hasil yang baik,” ujar Presiden.

Presiden juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada pihak-pihak di luar pemerintahan yang juga ikut terlibat aktif dalam pembebasan tersebut.

Terkait masalah penyanderaan ini, ia menekankan masalah kemanan perbatasan yang akan menjadi sorotan bersama dalam pertemuan pihak otoritas keamanan dan kementerian luar negeri tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Filipina.

“Disamping upaya pembebasan sandera, satu isu yang lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah keamanan di perairan perbatasan dan wilayah sekitarnya. Oleh karena itu akan diadakan pertemuan pada 5 Mei ini antara Indonesia Malaysia an Filipina. Yang akan bertemu adalah Menteri Luar Negeri 3 negara, Panglima TNI dan Panglima Malaysia dan Filipina,” kata Presiden.

Ia juga menegaskan, saat ini pemerintah masih terus bekerja keras untuk pembebasan empat ABK WNI yang masih di tangan kelompok penyandera.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan, upaya pembebasan 10 sandera ini dilakukan melalui cara diplomasi dan pendekatan non-militer oleh pemerintah Indonesia dan Filipina. Aspek keamanan, menurut Retno, yang selalu menjadi pertimbangan utama dalam upaya pembebasan ini.

“Ini adalah diplomasi total yang tidak hanya berfokus pada diplomasi government to government atau antar-pemerintah, tetapi juga melibatkan jaringan-jaringan informal. Bahwa semua komunikasi semua jaringan kita buka. Semua opsi kita buka dengan satu tujuan yaitu mengupayakan keselamatan 10 WNI kita,” ujar Retno.

Sementara itu, setibanya di Jakarta Minggu tengah malam kesepuluh WNI langsung menjalani pemeriksaan kesehatan di RS Pusat Angkatan Darat, Gatot Subroto, Jakarta.

“Akan dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 10 ABK tersebut. Dan setelah itu akan diadakan proses serah terima dengan keluarga. Karena sebelumnya sudah dilakukan serah terima dari pemerintah Filipina kepada kita. Setelah proses pemeriksaan kesehatan selesai dilakukan kita akan lakukan proses serah terima kepada pihak keluarga,” kata Menlu Retno.

Sejak 26 Maret 2016, sepuluh awak kapal pandu Brahma 12 beserta muatan batubara milik perusahaan tambang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, disandera kelompok teroris Filipina Abu Sayyaf. Para awak kapal dan seluruh muatan batubara dibawa ke tempat persembunyian mereka di salah satu pulau di sekitar Kepulauan Sulu.

Ke-10 WNI tersebut adalah, Peter Tonsen Barahama asal Batam, Julian Philip Kabupaten Minahasa di Sulawesi Utara, Alvian Elvis Peti asal Jakarta Utara dan Mahmud asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Selain itu, ada Surian Syah asal Kabupaten Kendari di Sulawesi Tenggara, Surianto asal Wajo di Sulawesi Selatan, Wawan Saputra asal Kota Palopo, Bayu Oktavianto asal Klaten di Jawa Tengah, Rinaldi dari Makassar di Sulawesi Selatan dan Wendi Raknadian asal Kelurahan Pasar Ambacang, Padang, Sumatera Barat. [aw/em]

XS
SM
MD
LG