Tautan-tautan Akses

Presiden Jerman Akui Ada Kesalahan pada Sistem Perbankan Eropa

  • Wella Sherlita

Presiden Jerman Christian Wulff (kiri) sebelum melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta (1/12).

Presiden Jerman Christian Wulff (kiri) sebelum melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta (1/12).

Demikian yang dikatakan Presiden Republik Federal Jerman, Christian Wulff, kepada pers usai pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Merdeka, Kamis siang (1/12).

Presiden Republik Federal Jerman, Christian Wulff, mengakui ada banyak kesalahan yang dilakukan sistem perbankan Eropa selama ini, yang berujung pada penumpukan hutang dan krisis moneter. Indonesia dianggap sebagai contoh yang baik dalam penghematan dan konsolidasi ekonomi.

Hingga tahun 2008 mata uang Euro telah memberikan kesejahteraan di kawasan Eropa, dan hampir dalam sepuluh tahun terakhir tidak pernah mengalami inflasi sehingga stabil. Namun, belakangan perbankan Eropa membuat kesalahan yang mengakibatkan utang bertumpuk, dan berakhir dengan krisis keuangan di benua tersebut.

Usai pertemuan bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Merdeka (1/12), Presiden Jerman Christian Wulff mengatakan kepada pers, “…Karena utang di bidang perbankan dan utang di pihak negara itu harus dikonsolidasikan. Untuk jangka panjang kita tidak boleh mengeluarkan lebih banyak uang dari yang kita dapatkan. Dan Indonesia jadi contoh yang baik karena ekonomi Indonesia sangat terkonsolidasikan.”

Seterusnya, Wulff menjelaskan saat ini Republik Federal Jerman berusaha hemat, karena ekonomi yang baik itu bisa membantu perbaikan di masa depan. Ia berharap, langkah penghematan ini bisa diikuti oleh negara-negara lain di Eropa.

“Kita bertanggungjawab supaya masa depan generasi mendatang, anak-anak kita tidak harus menanggung beban yang terjadi dari krisis itu. Kita harus berusaha supaya tidak hanya negara-negara di Eropa yang harus berubah cara berekonominya, tidak boleh menumpuk hutang berlebih-lebihan, dan tidak boleh menuntut bantuan dari pemerintah kami. Pemerintah seperti itu tidak boleh memberikan keterangan yang tidak jujur,” papar Wulff.

Sementara, Presiden Yudhoyono mengatakan, ada lima kerjasama strategis yang siap ditingkatkan oleh Indonesia dan Jerman, yaitu investasi dan perdagangan, pendidikan, kesehatan, pertahanan dan keamanan, serta lingkungan dan energi bersih.

“Sekarang volume perdagangan mencapai 6 milyar dollar Amerika, naik 22 persen dari tahun sebelumnya. Investasi mencapai 300 juta Dollar Amerika lebih, tetapi kedua angka ini bisa lebih ditingkatkan. Indonesia punya MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), dan saya mengundang Jerman untuk jadi salah satu mitra strategis,” ujar Presiden Yudhoyono.

Kedua kepala negara juga membicarakan perkembangan terkini di Afrika Utara dan Timur Tengah. Presiden Yudhoyono menyambut baik dukungan Jerman kepada Afghanistan.

Presiden SBY mengatakan, “Saya juga prihatin terhadap situasi di Syria dan berharap bisa dihentikan, termasuk dukungan Jerman yang menggelar konferensi tentang Afghanistan, rekonstruksi pasca konflik untuk perbaikan Afghanistan dan dunia, dan terakhir tentang eurozone memang situasinya tidak mudah. Indonesia berharap ada solusi agar perekonomian global yang dalam proses pemulihan sejak tiga tahun lalu itu bisa berlanjut.”

Presiden Christian Wulff akan berada di Indonesia hingga Jumat. Ia dijadwalkan untuk bertemu dengan para aktivis dari organisasi masyarakat sipil (LSM), serta tokoh-tokoh agama.

XS
SM
MD
LG