Tautan-tautan Akses

Presiden Instruksikan Penanganan Cepat Bencana Alam


Seorang ibu dan anaknya menyaksikan letusan Gunung Sinabung dari desa Berastepu, kabupaten Karo, Sumatera Utara (10/1). (Reuters/Beawiharta)

Seorang ibu dan anaknya menyaksikan letusan Gunung Sinabung dari desa Berastepu, kabupaten Karo, Sumatera Utara (10/1). (Reuters/Beawiharta)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta jajaran kementerian untuk memastikan penanganan pengungsi berjalan baik.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan terus memantau perkembangan situasi berbagai bencana di Indonesia seperti banjir di Jakarta, letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara dan banjir bandang di Sulawesi Utara.

Dalam pengantar sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (16/1), ia memastikan akan menengok kondisi pengungsi di Sinabung.

“Di tanah air kita kembali terjadi sejumlah bencana alam. Banjir di Jakarta. Lalu letusan gunung Sinabung yang belum dikatakan aman sehingga sebanyak 25 ribu jiwa saudara-saudara kita ada di pengungsian. Dua hari yang lalu kita (pemerintah pusat) sudah menambah lagi logistik bantuan dari kita. Insya Allah awal minggu depan saya akan berkunjung ke kembali ke Sinabung,” ujarnya.

Presiden juga meminta jajaran kementerian terkait untuk memastikan penanganan pengungsi berjalan baik.

“Banjir bandang di Manado diakibatkan oleh cuaca atau iklim. Pimpinan BNPB saya minta untuk terus melaporkan perkembangan terkini. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saya minta untuk mem-brief kita semua untuk perkiraan iklim dan cuaca 1 hingga 4 bulan ke depan. Dengan demikian kita utamanya pemerintah di seluruh tanah air bisa lebih siap melakukan antisipasi. Dan manakala bencana itu datang responnya juga cepat dan tepat,” ujarnya.

Mengenai banjir bandang yang menerjang kota Manado, Sulawesi Utara Rabu (14/1), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif menjelaskan, bahwa kombinasi antara faktor alam dan antropogenik memicu terjadinya banjir bandang dan longsor yang masif.

Banjir, menurut Maarif, terjadi di 6 kabupaten/kota di Sulut secara bersamaan, yaitu Kota Manado, Minahasa Utara, Kota Tomohon, Minahasa, Minahasa Selatan, dan Kepulauan Sangihe. Data sementara dampak keseluruhan tambahnya, 15 orang tewas, dua orang hilang dan sekitar 40 ribu orang mengungsi.

“Saya baru telepon dengan Gubernur Sulut. Korban meninggal 15 orang dan 2 orang hilang. Akibat lain adalah jalan yang terputus dari Tomohon ke Manado, dan Manado ke Minahasa. Hal ini menyulitkan timrescue untuk menyalurkan bantuan pangan,” ujarnya.

Syamsul menambahkan sebelumnya BNPB telah memberikan bantuan uang tunai untuk masa darurat ke Manado saat banjir longsor November 2013.

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri memastikan stok bantuan untuk dua pekan kedepan untuk warga korban banjir bandang di Manado tercukupi dari gudang Kementerian Sosial di Manado.

“Kebutuhan mendasar sekarang bagi korban Banjir Sulut adalah 50 ton beras, seribu dus mie instan sudah disiapkan. Kemudian ikan kaleng 500-an untuk hari-hari ini harus disiapkan,” ujarnya.

Salim mengatakan dana yang dikucuri buat Manado di kisaran Rp 4 miliar sampai Rp 5 miliar. Nilai tersebut dihitung berdasarkan angka barang kebutuhan yang ada di gudang.

Sementara itu untuk penanganan bencana letusan Gunung Sinabung, Salim mengatakan pemerintah menyiapkan tanggap darurat bencana untuk mengantisipasi jika musibah terus berlanjut. Langkah yang dilakukan antara lain dengan menyiapkan cadangan pengaman berupa logistik, ujarnya.

“Tanggap darurat biasanya dua minggu. Kita menyiapkan untuk dua minggu. Kalau ditambah ya kita akan siap. Sebab seperti di Sinabung, sejak awal tanggap darurat ditambah, yang terakhir ini sampai 18 Januari. Kalau masih erupsi akan tetap berjalan,” ujarnya.

Kepala BNPB Syamsul Maarif dalam laporan kondisi terakhir penanganan bencana Gunung Sinabung menyebutkan, penanganan lahar dingin masih terkendali karena terlokalisasi pada arus sungai di sekitar Gunung Sinabung. Meski demikian, tambahnya, dalam beberapa hari, ada kemungkinan arus sungai tak lagi dapat menampung lahar dingin yang terus mengalir. BNPB telah mengungsikan masyarakat dari pemukimannya dalam radius 5 kilometer. Hingga Kamis (16/1), jumlah pengungsi tercatat 26.088 orang dari 8.103 kepala keluarga.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG