Tautan-tautan Akses

Presiden Filipina Ajukan Peralihan Persekutuan dari AS ke China


Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (Foto: dok).

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte (Foto: dok).

Skeptisisme di dalam negeri Filipina dapat memperlamban prakarsa Presiden Duterte yang kemungkinan berakhir dengan tindakan yang mencakup sebagian ambisi presiden dan menggabungnya dengan keinginan rakyat yang sebagian besar masih pro-Amerika.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menghadapi ujian politik di dalam negeri sementara dia mengharapkan para anggota Kongres, angggota Kabinet dan rakyat akan menerima gagasan kontroversialnya beralih persekutuan dari Amerika Serikat yang sepanjang sejarahnya membantu negara itu ke China yang kurang dikenal.

Dalam kunjungan kenegaraan ke Beijing hari Kamis, Duterte mengumumkan ia akan “berpisah” dari Amerika Serikat, bekas penjajah negaranya dan sekutu militernya yang kuat, dan sebaliknya bersekutu dengan China, yang disebutnya satu-satunya harapan akan dukungan ekonomi. Gagasannya tersebut dicetuskan setelah rentetan pernyataan yang sangat anti-Amerika dan pro-China sejak Duterte yang biasa berbicara lantang itu sejak dilantik sebagai presiden tanggal 30 Juni.

Skeptisisme di dalam negeri dapat memperlamban atau mengendurkan prakarsa tersebut, yang kemungkinan berakhir dengan tindakan yang mencakup sebagian ambisi presiden dan menggabungnya dengan keinginan rakyat yang sebagian besar masih pro-Amerika.

“Masalah kami dengan Presiden Duterte adalah gayanya. Ia tidak mempunyai kelompok pemikir,” kata Ramon Casiple, direktur kelompok advokasi untuk reformasi pemilu dan politik. Ia menambahkan “Sebaliknya Duterte hanya berpikir sendirian, tidak matang.

Para anggota Kabinet sedang menunggu untuk mendapat penjelasan rincian selanjutnya mengenai China dan Amerika Serikat sebelum mengambil tindakan, kata para analis. [gp]

XS
SM
MD
LG