Tautan-tautan Akses

Berulang Tahun, Presiden Ditagih Janji Selesaikan Kasus Kendeng

  • Fathiyah Wardah

Perempuan asal Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah berunjuk rasa di depan Istana Negara, menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka (12/4). (Foto: Dok)

Perempuan asal Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah berunjuk rasa di depan Istana Negara, menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka (12/4). (Foto: Dok)

Pada hari ulang tahunnya (21/6), Presiden Joko Widodo ditagih janji penyelesaian kasus pencemaran lingkungan oleh pabrik semen.

Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) hari Selasa (21/6) menggelar selamatan terkait ulang tahun Presiden Joko Widodo ke-55.

Yang menarik, acara ini justru dilangsungkan di alam terbuka, tepatnya di seberang Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Mereka datang membawa nasi tumpeng dan beragam jajanan pasar dan buah kelapa.

Ikut hadir pula Sukinah, salah satu dari sembilan perempuan yang aktif menolak pendirian pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng.

Menurut Koordinator JMPPK, Gun Retno, kedatangan Sukinah ke Jakarta kali ini bukan hanya untuk bertemu Presiden dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya, tetapi sekaligus menagih janji untuk bertemu warga Kendeng dan menyelesaikan persoalan pabrik semen yang dinilai mengancam kelestarian alam.

“Hari ini adalah wetonnya Pak Jokowi, Sebagai orang Jawa kami memohon kepada Gusti Maha Kuasa untuk tetap menjaga Pak Jokowi karena aku percaya masyarakat masih punya harapan besar bagaimana Pak Jokowi bisa menuntaskan persoalan-persoalan di Indonesia ini, terutama tentang pabrik semen," ujarnya.

Gun mengatakan sejak 2010, JMPPK sudah mengumpulkan beragam bukti soal pelanggaran, termasuk peraturan daerah tentang tata ruang dan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yang menyatakan bahwa kota Rembang tidak layak menjadi lokasi pendirian pabrik semen.

“Kasus Rembang, kami itu minta ayo kita rembukan dulu. Kami betul-betul tidak dilibatkan dalam proses sosialisasi. Kalau dari pihak semen sudah mengatakan melakukan sosialissasi, barangkali yang disosialisasi bukan kami. Kami ini belum pernah diajak bicara," ujarnya.

Karena tidak digubris oleh pemerintah kabupaten atau provinsi, JMPPK berusaha mengadu ke pemerintah pusat. Sukinah dan delapan perempuan lainnya April lalu mengecor kedua kaki mereka di seberang Istana Presiden untuk menarik perhatian Presiden Joko Widodo. Utusan presiden ketika itu datang menyampaikan pesan bahwa presiden akan menemui warga Kendeng.

Pabrik semen di Rembang itu didirikan oleh PT Semen Indonesia. Penduduk yang menolak pembangunan pabrik itu mendirikan tenda yag disebut “Tenda Perjuangan” di Desa Tegaldowo dan Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.

Selain di Rembang, kontroversi pendirian pabrik semen juga terjadi di Pati. Bedanya, pembangunan pabrik semen oleh PT Sahabat Mulya Sejati (PT SMS) ini merupakan bagian kelompok Indocement.

Ave Rudi al-Falah dari Masyarakat Speleologi Indonesia yang bergerak dalam kampanye pelestarian gua dan karst, menilai rencana pembangunan pabrik semen di Jawa Tengah hanya untuk kepentingan bisnis semata.

Produksi semen sudah surplus karena total produksi saja sudah mencapai 92 juta ton, padahal yang terserap untuk kebutuhan domestik hanya 72 juta ton.

‘’Tidak hanya di Kendeng, hampir di seluruh Jawa dikepung perusahaan semen, dari Banten sampai Banyuwangi. Di luar Jawa juga sudah mulai banyak: Kalimantan Timur, Manokwari, Papua Barat sudah mulai berdiri pabrik semen dari pemodal asing. Di Sukabumi ada pabrik semen dari Thailand menuai protes dari warga karena mereka tidak dilibatkan dalam proses AMDAL," katanya.

Berbeda dengan unjuk rasa sebelumnya, tidak ada utusan presiden yang menemui para petani Kendeng kali ini.

XS
SM
MD
LG