Tautan-tautan Akses

Meski Dilarang, Praktik Pemberian Mahar Tetap Marak di India

  • Kurt Achin

Game “Pengantin Perempuan yang Berang” di Facebook kembali menarik perhatian sehubungan dengan masalah yang telah lama ada di India, yaitu praktik pemberian mahar yang dilarang, atau pemberian mas kawin dari keluarga pengantin perempuan kepada keluarga pe

Game “Pengantin Perempuan yang Berang” di Facebook kembali menarik perhatian sehubungan dengan masalah yang telah lama ada di India, yaitu praktik pemberian mahar yang dilarang, atau pemberian mas kawin dari keluarga pengantin perempuan kepada keluarga pe

Sebuah game media sosial baru kembali menarik perhatian sehubungan dengan masalah yang telah lama ada di India, yaitu praktik pemberian mahar yang dilarang, atau pemberian mas kawin dari keluarga pengantin perempuan kepada keluarga pengantin lelaki agar bersedia dinikahi.

Sebuah Game di Facebook yang disebut “Pengantin Perempuan yang Berang,” mengingatkan orang pada permainan video “Angry Birds,” atau “Burung yang Marah.”

Pemain game itu berperan sebagai dewi Hindu yang bertangan banyak yang bisa melempar projektil-projektil seperti sepatu bertumit tinggi dan sepatu boot pekerja bangunan pada calon suami.

Setiap kali pemain itu mendapat angka untuk memenangkan salah seorang lelaki professional yang diinginkan, jumlah uang yang diminta lelaki itu untuk dinikahi berkurang. Biro jodoh yang mengembangkan game itu mengatakan game itu merupakan permainan iseng yang mengilhami perempuan untuk berani menentang pemberian mahar.

Ranjana Kumari, yang bekerja pada Pusat Penelitian Sosial di New Delhi, dalam 30 tahun terakhir menentang sistem mahar itu. Kumari mengatakan pemberian mahar oleh keluarga pengantin perempuan kepada keluarga pengantin lelaki menurut sejarahnya adalah untuk memberikan restu, tetapi sekarang diartikan sebagai bencana.

“Pada akhirnya mas kawin itu dikuasai para ipar yang serakah, yang haus uang, yang ingin hidup mewah tanpa kerja keras,” ujarnya.

Seorang perempuan mengatakan ketika ia pindah ke rumah suaminya setelah menikah, keluarga suaminya sering memukulinya, karena mereka menginginkan mahar yang lebih besar. Suaminya selalu mengatakan kepadanya, satu-satunya jalan ia bisa tetap menikahinya adalah jika perempuan itu membawa uang 50.000 rupee dari rumah orang tuanya. Perempuan itu mengatakan, orang tuanya tidak punya uang lagi.

Secara resmi, pemberian mahar adalah praktik melanggar hukum di India sejak lebih dari 50 tahun lalu, tetapi praktik itu masih merajalela. Ribuan perempuan mati terbunuh setiap tahun dalam perselisihan mahar.

Kumari mengatakan dalam beberapa hal, meningkatnya kemakmuran India memperburuk masalah itu.

“Bagi orang miskin, ada sejenis perjanjian bahwa mahar hanya bisa diberikan dalam jumlah tertentu. Jadi ada saling pengertian antara keluarga-keluarga dalam kelompok itu. Tetapi bagi kelompok menengah, hampir selalu ada keinginan hidup mewah melalui pemberian mahar,” ujar Kumari lagi.

Seorang perempuan lain mengatakan orang tuanya memberinya cincin dan gelang emas, lemari pendingin, televisi, tempat tidur, dan pakaian untuk seluruh keluarga dan kerabat suaminya. Mereka memberi hampir semua barang yang biasanya termasuk dalam mahar. Namun, keluarga suaminya terus meminta lagi.

Para pakar mengatakan ada kaitan jelas antara praktik mahar dengan menurunnya secara tajam jumlah bayi perempuan dibandingkan dengan bayi laki-laki di India.

XS
SM
MD
LG