Tautan-tautan Akses

PPATK Laporkan Temuan Aliran Dana Terorisme dari Australia


Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan adanya aliran dana dari pihak di Australia untuk jaringan radikal di Indonesia (Foto: ilustrasi).

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan adanya aliran dana dari pihak di Australia untuk jaringan radikal di Indonesia (Foto: ilustrasi).

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menjalin kerjasama dengan negara-negara di Asia Tenggara terkait penanganan pendanaan terorisme antar negara.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan adanya aliran dana dari pihak di Australia untuk jaringan radikal di Indonesia. Wakil Ketua PPATK Agus Santoso kepada VOA Rabu (25/3) menjelaskan hasil temuan itu, beberapa diantaranya sudah diserahkan kepada Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri untuk ditindaklanjuti.

"Kita menemukan adanya aliran dana dari pihak di Australia ke pihak di Indonesia dengan dugaan pendanaan biaya terorisme. Nah dari kerjasama kedua institusi ini kita bisa mengungkap bahwa ada hubungan transaksional antara pihak di Australia dengan pihak di Indonesia," jelas Agus Santoso.

"Ada yang sudah saya serahkan ke densus 88. Tapi ada juga kasus yang masih kita proses. tapi ga usah terlalu rinci lah ya saya jelaskan. Karena PPATK adalah unit intelijen," imbuhnya.

Agus Santoso menambahkan, PPATK telah menjalin kerjasama dengan Otoritas Pemerintah Australia melalui Australian Transaction Report and Analysis Center (AUSTRAC) dengan spesifik aliran dana terorisme sejak 2014 lalu.

"Kasus ini sudah kita tangani sejak semester dua tahun yang lalu. Dan sekarang pun kita dengan pihak Australia masih juga menangani kasus serupa untuk pendalaman. Bahkan kami akan mengirim staf ke Australia untuk lebih mendalami kasus ini," lanjut Agus Santoso.

Selain dengan pihak Australia, menurut Agus, PPATK Indonesia juga menjalin kerjasama dengan negara-negara di Asia Tenggara terkait penanganan pendanaan terorisme antar negara.

"Kerjasama dengan Australia ini kita ingin membangun komitmen bersama untuk menjaga kawasan karena Indonesia berbatasan langsung dengan Australia. Nanti Oktober mendatang kita akan menggelar workshop bersama di Jakarta," jelasnya.

"Kita mengundang Australia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand, untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan kerjasama lebih erat antar PPATK di ke enam negara ini. Sehingga penanganan pendanaan terorisme ini lebih efektif. Ini juga sebagai keseriusan komitmen Indonesia dalam menangani masalah ini," kata Agus Santoso.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin kepada VOA mengapresiasi temuan aliran dana terorisme ini. Hasanuddin mengatakan perputaran aliran dana untuk terorisme, saat ini berputar dulu di beberapa negara sebelum masuk ke Indonesia. Hal ini menurut TB Hasanuddin dilakukan untuk mencegah diketahui oleh pihak aparat keamanan.

"Uang di dunia ini berputar lewat mana saja. Misalnya ada uang transfer dari timur tengah. Sebelum masuk ke Indonesia dipake bisnis dulu di nagara lain. Kemudian dari situ kemudian masuk ke Australia yang kemudian baru dikirim ke Indonesia. Atau bisa juga berputar dulu ke beberapa negara, baru masuk ke Indonesia dengan kamuflase. Itu saya kira bagian dari strategi yang mereka lakukan. Supaya tidak terlihat bahwa untuk kepentingan terorisme, dilewatkanlah ke Australia," kata TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin menambahkan, pola pendanaan kelompok ISIS untuk beberapa negara memiliki kesamaan dengan organisasi teroris lainnya.

"Pada umumnya hamper sama sistim nya ya. Ada yang melalui pungutan atau melalui perampokan yang biasa disebut fa’i. ada pula melalui sumbangan perorangan. Ada juga melalui sebuah perusahaan. Bisa juga dengan upaya lain seperti jual produk. Merek yang mampu untuk mengeluarkan rejekinya adalah bagian dari kelompok itu sendiri," imbuhnya.

XS
SM
MD
LG