Tautan-tautan Akses

Poros AS-ASEAN Tingkatkan Pengaruh Tapi Gagal Bendung Keagresifan China


Sebagian kota Sansha di pulau Yongxing, yang juga dikenal sebagai pulau Woody di kepulauan Paracel, Laut Cina Selatan (Foto: dok).

Sebagian kota Sansha di pulau Yongxing, yang juga dikenal sebagai pulau Woody di kepulauan Paracel, Laut Cina Selatan (Foto: dok).

Angkatan Laut AS masih merupakan kekuatan utama di perairan, namun China telah bergerak untuk memperkokoh klaim-klaimnya dan memperluas keberadaaannya di Laut Cina Selatan tanpa menempatkan pasukan militernya di garis depan.

Lima tahun setelah Presiden Barack Obama berkomitmen untuk menyeimbangkan kembali kekuatan strategis ke Asia, dengan mengalihkan sumber-sumber daya diplomatik dan militernya ke mesin ekonomi dunia itu, para pengkritik mengatakan langkah itu dilakukan dengan sangat agresif namun sejauh ini gagal membuahkan hasil.

Pada saat langkah-langkah agresif Beijing dalam mengklaim wilayah di Laut Cina Selatan menjadi sorotan dan mengundang tanggapan cemas negara-negara di kawasan itu, sejumlah pengamat mengatakan China tampak mengalahkan saingan-saingannya dalam usaha mempertahankan klaim di perairan strategis yang luas itu.

"Sebagai pihak yang berada di kawasan Asia-Pasifik dan mengamati keberadaan Amerika di Asia Pasifik, kami hanya melihat (ketidakjelasan) usaha penyeimbangan kekuatan," kata William Chong, pengamat senior yang hadir pada KTT Keamanan Asia di Singapura, sebuah forum yang juga dikenal sebagai Dialog Shangri-La.

Selama puluhan tahun, Angkatan Laut AS telah melindungi rute-rute pelayaran penting di Pasifik. Angkatan Laut AS masih merupakan kekuatan utama di perairan, namun China telah bergerak untuk memperkokoh klaim-klaimnya dan memperluas keberadaaannya di Laut Cina Selatan tanpa menempatkan pasukan militernya di garis depan.

"Keterdepanan China dicapai melalui cara-cara yang tidak bisa dipersalahkan atau dibenarkan seperti menempatkan Pengawal Pantai atau pasukan paramiliter, dan bahkan pembangunan pulau-pulau buatan diselubungi sebagai usaha untuk memberikan layanan publik, SAR, penelitian ilmiah, ekplorasi minyak dan penangkapan ikan," kata Carlyle Thayer, analis keamanan Asia Tenggara dari Defense Force Academy di Canberra, Australia.

Dalam dua tahun terakhir, China telah mengklaim sedikitnya 1.170 hektar wilayah Laut China Selatan dengan melakukan pembangunan di karang-karang dan pulau-pulau kecil. Pekan ini muncul peringatan lain mengenai usaha negara itu untuk memperkokoh pos-pos terdepan yang sudah ada.AS mengatakan China tampaknya telah menempatkan unit-unit misil darat ke udara HQ-9 di Pulau Woody yang terletak di Kepulauan Paracel.

Thayer mengatakan China telah memiliki kapal-kapal pengawal pantai yang lebih banyak dibanding kombinasi seluruh negara ASEAN. Dengan senjata dan infrastuktur militer yang ditempatkan Beijing di pulau-pulau buatan di perairan yang disengketakan, dengan beberapa di antaranya ditempatkan hingga sejauh lebih dari 800 kilometer daridaratan utama, China memiliki kemampuan serang cepat dan superioritas angkatan laut atas negara- negara lain di kawasan itu.

Militer AS telah membangun hubungan yang erat dengan negara-negara ASEAN, khususnya Vietnam dan Filipina, yang berebut klaim wilayah dengan China. Namun, itu tidak berarti ASEAN telah bersatu untuk menyelesaikan masalah Laut China Selatan. ASEAN, yang berkonsensus tidak mencampuri urusan negara lain, ragu untuk secara terbuka mendukung AS dalam mengambil tindakan berarti terhadap China.

"Negara-negara ASEAN belum secara sungguh-sungguh menyatakan apa yang mereka inginkan dari Amerika," imbuh Carlyle Thayer.

Meski demikian, kata Thayer, pengaruh Amerika di kawasan itu telah meningkat karena komitmen Obama untuklebih terlibat di Asia Tenggara dan untuk secara pribadi berpartisipasi dalam forum-forum tahunanseperti KTT Keamanan Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir, Washington juga telah mengalihkan pasukan dan aset-aset militernya ke kawasan itu dan memperkokoh aliansi keamanan dengan sejumlah anggota ASEAN. [ab/lt]

XS
SM
MD
LG