Tautan-tautan Akses

Polri Sinyalir ISIS akan Jadikan Indonesia Sebagai Basis Kekuatan Militan di Asia


Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Charlatan (Foto:VOA/Andylala).

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Charlatan (Foto:VOA/Andylala).

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan mengatakan, kelompok teroris Indonesia sudah mempunyai hubungan langsung dengan kelompok teroris ISIS di Suriah.

Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menyebut kelompok teroris negara Islam Irak – Suriah (ISIS) diindikasikan akan membuat Indonesia sebagai markas perlawanan ISIS wilayah Asia.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan Sabtu (26/12) menjelaskan penangkapan terduga teroris inisial AL asal Uighur China di Bekasi beberapa waktu lalu, menguatkan indikasi itu.

"Bahwa ISIS ini merupakan jaringan internasional. Dan Indonesia ini akan dijadikan salah satu base camp di Asia Tenggara atau mungkin saja di Asia. Sehingga ada hubungan antara satu negara dengan negara lain. Ini baru dari China, bisa juga belum kita temukan dari negara lain," kata Inspektur Jenderal Anton Charlatan.

Sebelumnya pada Rabu (23/12) Kepolisian Indonesia menangkap dua orang terduga teroris di Bekasi Jawa Barat. Salah satu diantaranya berasal dari etnis Uighur asal China. Beberapa hari sebelumnya, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror menangkap sembilan terduga teroris di enam kota, yaitu di Tasikmalaya, Banjar, Gresik, Mojokerto dan Sukoharjo.

Anton Charliyan menambahkan, kelompok terduga teroris ini mempunyai hubungan langsung dengan kelompok teroris ISIS di Suriah.

"Kalau yang di Jawa Timur tidak begitu terkait. Tetapi dengan yang di Tasikmalaya maupun yang di Solo ada sedikit kaitannya. Kelompok ini berdiri sendiri dan mempunyai hubungan dengan yang di Suriah. Di bawah pimpinan di Suriah atas nama BN," tambahnya.

AL menurut Anton, adalah satu kelompok dengan dua orang Uighur yang pada pertengahan 2015 ditangkap. Kedua warga Uighur itu sebelumnya berniat untuk bergabung dengan kelompok teroris Santoso di Poso Sulawesi Tengah.

"Ya betul ada kaitannya karena ada beberapa orang yang dari Uighur salah satunya ternyata mereka satu kelompok. Yang satu mungkin ikut ke Poso. Yang dua sudah di tangkap. Yang satu lagi ketangkap di Bekasi (AL). karena yang waktu itu yang satu itu mau gabung dengan Santoso tapi, berhasil kita gagalkan," imbuhnya.

Saasaran teror kelompok ini menurut Anton adalah melakukan penyerangan terhadap kantor instansi Pemerintah di Jakarta. Dengan menjadikan AL sebagai pembom bunuh diri.

"Salah satu namanya AL. AL itu ternyata setelah kita tangkap masih di daerah Harapan Baru Bekasi ternyata orang asing dari Uighur China. Dimana dari yang bersangkutan juga di temukan barang bukti bahwa yang bersangkutan akan menjadi ‘pengantin’. Bahkan ditemukan juga sketsa dari gedung instansi Pemerintah yang mungkin juga akan dijadikan sasaran terror. Ada juga barang-barang lain misalkan juga peralatan seperti switching, pedang dan lain-lain," katanya.

Perayaan Natal dan Tahun Baru menurut Anton akan dijadikan momen aksi teror kelompok ini. Sebagaimana sebelumnya ancaman yang diterima aparat keamanan Indonesia dari kelompok ISIS.

"Mereka bisa saja memanfaatkan momen-momen tersebut. Karena dari awal juga kan mereka sudah mengancam atau memberikan warning pada kita, bahwa di bulan Desember ini mereka akan mengadakan aksi. Nah batas waktu bulan Desember itu kita tidak tau pasti. Namun berdasarkan pengalaman tahun 2000 kita pernah mengalami delapan gereja di bom. Kemungkinan salah satu momen yang dimanfaatkan iu ya momen Natal dan Tahun baru," lanjutnya.

Meski pelaksanaan ibadah Natal berlangsung aman, namun Polri dan TNI serta aparat lainnya tetap melakukan pengamanan ketat semua lokasi khususnya rumah ibadah menjelang dan beberapa hari setelah pergantian tahun.

"Ya kita tetap meningkatkan kewaspadaan. Walaupun ini merupakan kegiatan rutin, tapi mungkin kegiatan rutin yang perlu ditingkatkan. Apalagi dengan adanya warning dari kelompok ISIS. Warning ini bukan tanpa alasan. Yaitu dengan kejadian di Paris yang merupakan suatu hal yang perlu kita garis bawahi. Sehingga dengan demikian kita meningkatkan kewaspadaan lebih tinggi dan meningkatkan kerjasama dengan komponen keamanan lainnya. Termasuk dengan TNI, Pemda, yaitu ada SatpoL PP, dishub, pamswakarsa dan lain-lain," imbuhnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saut Usman Nasution mengatakan, untuk saat ini baru dari kelompok Uighur yang masuk ke Indonesia dan sudah bergabung dengan Santoso.

"Sementara ini yang terdeteksi baru dari kelompok Uighur yang sudah jelas masuk. Lima orang sudah bergabung dengan Santoso di gunung. Kita belum temukan," kata Saut Usman.

Saut menjelaskan ada ratusan orang yang bergabung dengan ISIS dan kembali ke Indonesia.

"Ya sekarang sudah 169 di deportasi dari Turki. Ya mereka kembali ke masyarakat, dan ada problem hukum yang kita hadapi. Mereka ini ISIS. Dia bilang keluar dari NKRI. Tapi kita nda bisa mencabut kewarganeragaannya. Dasarnya ga ada. Kita mau kenakan pasal apa? ISIS ini bukan negara. Maka mereka menyebut khilafah yang ga diakui dan gak jelas teritorinya di mana," imbuh Saut. [aw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG