Tautan-tautan Akses

Polisi Thailand Tuntut Peretas Situs Pemerintah


Natdanai Kongdee (tiga dari kanan) sedang diinterogasi di markas besar kepolisian Thailand di Bangkok,26 Desember 2016. (AP Photo/Tassanee Vejpongsa)

Natdanai Kongdee (tiga dari kanan) sedang diinterogasi di markas besar kepolisian Thailand di Bangkok,26 Desember 2016. (AP Photo/Tassanee Vejpongsa)

Wakil Perdana Menteri Thailand Prawit Wongsuwan mengatakan Natdanai Kongdee yang berusia 19 tahun, merupakan satu dari sembilan orang yang ditangkap terkait pemblokiran akses pada beberapa situs dan peretasan arsip yang rahasia.

Polisi Thailand, Senin (26/12) menuduh seorang tersangka yang ikut dalam serangan peretasan terhadap situs-situs pemerintah, yang digambarkan sebagai bagian dari protes menentang pengetatan aturan penggunaan internet.

Wakil Perdana Menteri Thailand Prawit Wongsuwan mengatakan Natdanai Kongdee yang berusia 19 tahun, merupakan satu dari sembilan orang yang ditangkap terkait pemblokiran akses pada beberapa situs dan peretasan arsip yang rahasia.

Polisi mengatakan Kongdee adalah peretas tingkat bawah dan bukan pemimpin kelompok itu. Kongdee telah mengaku ikut dalam serangan tersebut. Ditambahkan, Kongdee adalah anggota beberapa kelompok dunia maya yang mengkhususkan diri pada aktivitas peretasan.

Natdanai ikut dihadirkan dalam konferensi pers hari Senin (26/12) tetapi tidak bicara. Ia dituduh mengakses data polisi, serta memiliki senjata api dan mariyuana secara ilegal, yang katanya ditemukan polisi ketika menggeledah rumahnya.

Belum ada penjelasan tentang status beberapa orang lain yang ditangkap.

Kelompok Peretas Protes Revisi UU Kejahatan Komputer

Kelompok yang mendorong serangan itu mengatakan mereka memprotes lolosnya revisi UU Kejahatan Komputer di Thailand, yang akan membatasi kebebasan berpendapat dan memfasilitas upaya menyasar pembangkang politik. Undang-undang baru itu akan memungkinkan pihak berwenang Thailandmencegat komunikasi pribadi dan menyensor situs-situs tanpa surat perintah pengadilan.

Awal bulan ini kelompok pengguna Facebook yang menamakan diri mereka “Citizens Against Single Gateway” menyerukan dilancarkannya “perang dunia maya”. Nama kelompok itu mencerminkan keprihatinan para aktivis tentang rencana pemberlakuan satu gerbang tunggal bagi semua lalu-lintas internet internasional.

Pemerintah Thailand mengklaim sistem semacam itu penting demi keamanan nasional, tetapi tentangan dari berbagai sektor telah membuat pemerintah mengelak untuk menjelaskan apakah memang akan mewujudkan gerbang pengawas tunggal (single gateway) itu.

Kelompok Peretas Klaim Berhasil Melumpuhkan Sejumlah Situs Pemerintah

Kelompok itu pada 19 Desember lalu mengklaim bertanggung jawab melumpuhkan situs Kementerian Pertahanan Thailand untuk sementara waktu. Sejak saat itu kelompok tersebut juga mengklaim telah melumpuhkan beberapa situs milik militer, departemen bea cukai, polisi, kementerian luar negeri dan situs-situs pemerintah Thailand lainnya.

Sejumlah peretas lain yang beroperasi sebagai bagian dari jaringan aktivis “Anonymous” telah memasang data yang mereka klaim berasal dari komputer pemerintah. (em/ii)

XS
SM
MD
LG