Tautan-tautan Akses

Polisi Tak Temukan Bukti Pemerkosaan atas Pengungsi Rohingya di Aceh

  • Fathiyah Wardah

Para pengungsi perempuan Rohingya di kamp penampungan di Aceh (foto: dok). Polisi tidak menemukan buktinya adanya pemerkosaan terhadap 4 perempuan Rohingya di sana.

Para pengungsi perempuan Rohingya di kamp penampungan di Aceh (foto: dok). Polisi tidak menemukan buktinya adanya pemerkosaan terhadap 4 perempuan Rohingya di sana.

Polisi tidak menemukan bukti adanya pemerkosaan terhadap 4 pengungsi perempuan Rohingya di Aceh, namun polisi juga belum memutuskan apakah kasus ini akan dilanjutkan atau tidak.

Kerusuhan sempat terjadi di tempat penampungan pengungsi warga Rohingya di Blang Adoe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara pada selasa (29/9) pasca muncul dugaan terjadinya pemukulan dan pemerkosaan warga muslim Rohingya oleh warga lokal di lokasi tersebut.

Empat pengungsi perempuan Rohingya mengaku menjadi korban pemerkosaan. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Agus Rianto kepada VOA hari Rabu (7/10) menjelaskan polisi tidak menemukan adanya pemerkosaan maupun pelecehan seksual dalam kasus ini.

Hasil visum menunjukan bahwa empat perempuan pengungsi Rohingya itu tidak mengalami pemerkosaan ataupun pelecehan seksual. Dalam kasus ini, polisi kata Agus telah memeriksa 7 saksi seperti masyarakat, petugas polisi yang ketika itu sedang berjaga dan petugas lainnya yang berada di tempat penampungan.

Polisi menurut Agus baru akan meminta keterangan dari empat pengungsi perempuan Rohingya tersebut pada hari Rabu. Polisi tambahnya belum mengetahui alasan mengapa mereka berbohong. Untuk itu, menurut Agus lembaganya juga ingin menyelidiki alasan mengapa 4 perempuan tersebut mengaku mengalami pemerkosaan.

Agus mengaku belum mengetahui apakah kasus ini terus berjalan atau tidak setelah tidak ditemukannya adanya pemerkosaan. Pasca kerusuhan yang terjadi di tempat penampungan pengungsi Rohingya di Aceh, polisi memperkuat keamanan di tempat itu.

"Kita sudah melakukan langkah-langkah pemeriksaan terhadap beberapa orang yang diduga terkait dalam masalah itu. Termasuk juga kita juga telah meminta visum terhadap yang diduga korban, ternyata memang tidak ditemukan tanda-tanda yang di-informasikan itu," papar Agus Rianto.

Seperti diberitakan sebelumnya, bermula ketika enam warga muslim Rohingya memanjat pagar di bagian belakang penampungan. Mereka mengaku ingin menemui saudaranya yang datang dari Malaysia, tetapi setibanya di luar penampungan, sekelompok pria tidak dikenal menangkap mereka. Di kamp penampungan pengungsi, berembus kabar empat perempuan ini telah mengalami tindak perkosaan.

Setelah mengetahui hasil visum yang menyatakan tidak terjadi pemerkosaan pada 4 perempuan pengungsi Rohingya, Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya di Aceh, organisasi kemasyarakatan yang intens mengurus pengungsi Rohingya di Aceh geram dan berniat melaporkan keempat perempuan warga muslim Rohingya itu ke polisi.

Mereka menilai akibat cerita bohong warga Rohingya tersebut, dunia menghujat Aceh dan Indonesia seolah-olah telah memperlakukan mereka dengan tidak baik, padahal menurut mereka relawan dan rakyat Aceh sudah berbuat yang terbaik untuk warga Rohingya.

Juru bicara Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya di Jakarta Iqbal Setyarso menegaskan, lembaganya tidak akan melaporkan warga muslim Rohingya tersebut karena menurutnya pernyataan tersebut hanya bentuk luapan emosi sesat.

Iqbal menduga pengakuan adanya pemerkosaan itu dibuat sebagai bentuk pembelaan diri para pengungsi karena ditangkap setelah meninggalkan tempat penampungan.

"Di kasus yang kemarin itu, setelah diselidiki mereka ada keinginan keluar kemudian berulah yang mungkin fatal yah buat semua. Hal baik yang telah diberikan kepada mereka, tetapi mereka balasnya begitu. Tapi itu hanya emosi saja, tidak melaporkan. Kita harus menerima resiko termasuk ketika mereka berulah," jelas Iqbal.

Sementara, juru bicara Organisasi Migrasi Internasional (IOM) di Jakarta, Paul Dillon enggan berkomentar perihal hasil penyelidikan yang dilakukan polisi. Meski demikian dia menegaskan bahwa lembaganya bekerjasama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat untuk membuat kondisi di tempat penampungan bagi warga muslim Rohingya di Aceh lebih baik.

Lembaganya menurut Paul meminta agar para pengungsi mengikuti instruksi dan panduan dari UNHCR atau komisi tinggi PBB untuk urusan pengungsi agar bisa menetap di negara yang mereka tuju.

Malaysia merupakan salah satu negara yang ingin dituju oleh sejumlah warga muslim Rohingya di Aceh. Negara tersebut dipilih karena mereka menilai telah memiliki banyak saudara yang menetap di negara itu. IOM tambah Paul tidak akan memfasilitasi para pengungsi Rohingya yang ingin pergi ke Malaysia.

"Tugas kami memberikan layanan kepada pengungsi di kamp. Kami memberikan makanan, akses kepada layanan kesehatan dan beberapa hal lainnya. Jadi kami tidak berwenang mengomentari investigasi polisi," ujar Paul.

Sementara itu, antropolog dari Universitas Malikussaleh Aceh, Teuku Kemal Pasya mengatakan saat ini pengungsi Rohingya di Aceh sudah merasa bosan, karena mereka tidak bekerja atau memiliki aktivitas. Selain itu pelayanan di penampungan lanjutnya juga tidak terlalu baik.

Hal itulah salah satu penyebab sejumlah kasus terjadi. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya sejumlah masyarakat setempat yang melakukan pemerasan terhadap warga Rohingya di penampungan. Warga Rohingya biasanya mendapatkan uang dari UNHCR.

Pengungsi Rohingya di Aceh tambah Kemal memang tidak berbaur dengan masyarakat lokal karena mereka berada di tempat penampungan.

"Kenapa terjadi pemerasan? Karena masyarakat yang berada di sekitar pengungsian juga orang miskin, maka muncul kecemburuan sosial sebagai akibat masalah pribadi social security yang tidak dipenuhi negara. Akhirnya (masyarakat sekitar) melakukan hal-hal yang aneh (pemerasan) seperti itu," ungkap Teuku Kemal.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG