Tautan-tautan Akses

Parade Tahunan di Belfast Berakhir dengan Kerusuhan


Peserta parade berhadapan dengan polisi di Woodvale Road, setelah mereka dilarang berbaris melewati toko-toko Ardoyne di Belfast utara, Irlandia Utara (13/7).

Peserta parade berhadapan dengan polisi di Woodvale Road, setelah mereka dilarang berbaris melewati toko-toko Ardoyne di Belfast utara, Irlandia Utara (13/7).

Kerusuhan meletus di Belfast di tengah-tengah sebuah parade warga Protestan, ketika polisi mencoba untuk memblokir peserta parade agar tidak melewati perumahan Katolik. Peristiwa ini menandai kembalinya aksi kekerasan sektarian yang sudah pernah melanda acara ini sebelumnya.

Para demonstran melempari polisi dengan botol, kaleng bir dan benda-benda lainnya pada Senin malam, melukai 24 petugas polisi, kata polisi Irlandia Utara.

Polisi anti huru hara menembakkan meriam air dan peluru plastik. Sekelompok warga Katolik berdiri ratusan meter, terpisah dari para perusuh dengan penjagaan polisi.

Selama bertahun-tahun konflik di Irlandia Utara, pertikaian sering terjadi dalam parade ini. Tahun lalu, parade berakhir tanpa kekerasan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, ketika peserta pawai berputar arah sebelum melewati daerah permukiman Ardyone yang mayoritas warganya Katolik di Belfast.

Ribuan warga Protestan pro-Inggris menyelenggarakan pawai setiap bulan Juli di provinsi yang dikuasai Inggris untuk menandai kemenangan oleh Raja William yang mengawali dominasi Protestan tahun 1690, sebuah tradisi yang dianggap provokatif oleh warga nasionalis Katolik Irlandia.

Kerusuhan tahun ini dimulai ketika loyalis Protestan marah kepada polisi yang membentuk barisan untuk mencegah mereka melewati sebuah wilayah Katolik.

Di Londonderry, jendela-jendela di sebuah bus yang membawa warga Protestan dari reli pecah karena dilempari batu.

Politisi dari kedua sisi Irlandia Utara saling mengecam serangan tersebut.

"Mereka merusak Irlandia Utara dan hari yang seharusnya merupakan perayaan untuk menghormati tradisi budaya," kata Menteri Luar Negeri Irlandia Utara Theresa Villiers.

Organisasi persaudaraan Protestan Orange Order yang menyelenggarakan pawai mengatakan dalam sebuah pernyataan, mengutuk mereka yang ikut ambil bagian dalam kekerasan tersebut dan mengatakan bahwa tindakan mereka hanya memperkuat alasan mereka yang ingin menghapus tradisi ini.

Tiga dekade pertempuran antara loyalis Protestan yang menginginkan Irlandia Utara tetap menjadi bagian dari Inggris dan nasionalis Irlandia, mayoritas Katolik, yang ingin menjadi bagian dari Irlandia bersatu, menyebabkan tewasnya lebih dari 3.000 orang sebelum tercapai perjanjian damai 1998.

Kekerasan telah mereda tetapi parade tahunan seringkali membawa kembali ketegangan. Kerusuhan terburuk di Irlandia Utara dua setengah tahun yang lalu terjadi setelah keluarnya keputusan untuk membatasi jumlah hari pengibaran bendera Inggris di Belfast.

XS
SM
MD
LG