Tautan-tautan Akses

Polisi Buru 15 Napi yang Kabur dari Labuhan Ruku


Para narapidana melihat dari dalam LP Tanjung Gusta di Medan menyusul kerusuhan di penjara tersebut (12/7). (AP/Binsar Bakkara)

Para narapidana melihat dari dalam LP Tanjung Gusta di Medan menyusul kerusuhan di penjara tersebut (12/7). (AP/Binsar Bakkara)

Napi-napi kabur dari LP Labuhan Ruku setelah menyulut kerusuhan akibat marah karena tidak mendapat remisi Hari Kemerdekaan.

Pihak berwajib di Sumatra Utara, Senin (19/8), memburu sekitar 15 narapidana yang kabur dari lembaga pemasyarakatan yang padat di Labuhan Ruku, kabupaten Batubara, Sumatra Utara.

Napi-napi tersebut melarikan diri dari penjara Minggu, membakar bangunan dan menyerang penjaga, marah atas perlakuan buruk terhadap mereka dan karena tidak mendapat pengurangan hukuman atau remisi.

Sekitar 30 narapidana kabur, namun polisi dan tentara berhasil menangkap 16 diantaranya dalam semalam dan kembali menguasai penjara tersebut, menurut kepala Polres Batubara AKBP J.P. Sinaga.

“Kami masih memburu yang lainnya,” tambahnya.

Penjara tersebut memiliki kelebihan kapasitas hampir tiga kali dari kapasitas seharusnya yaitu 300 narapidana.

Pihak berwenang tidak mengetahui pidana apa saja yang telah dilakukan napi-napi yang kabur tersebut, meski Labuhan Ruku bukanlah penjara berkeamanan tinggi sehingga tidak ada pelaku pidana yang serius seperti terorisme.

Menyusul dua kasus penjebolan penjara di Indonesia pada Juli lalu, Interpol mengeluarkan peringatan bahwa organisasi polisi kriminal internasional itu menduga ada keterlibatan al-Qaida dalam penjebolan itu dan kasus-kasus tersebut terjadi pada saat yang sama di beberapa negara yang berbeda.

Namun pihak berwenang di Indonesia sendiri tidak memandang serius kemungkinan hubungan antara penjebolan penjara dengan jaringan teror.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengatakan ia tidak mencurigai adanya keterlibatan al-Qaida dalam peristiwa kaburnya narapidana Minggu.

“Kami tidak melihat ada indikasi-indikasi hubungan dengan al-Qaida,” ujarnya.

Sekitar 350 polisi menjaga jalan-jalan di sekitar kompleks penjara, yang sebagian hitam karena api dan pengrusakan.

Para narapidana telah dipindahkan ke sebuah gereja dan sebuah masjid di dalam kompleks tersebut.

Seorang penjaga penjara mengalami luka ringan di wajah dalam kerusuhan tersebut, namun tidak ada lagi korban luka lainnya, ujar Budi Sulaksana, kepala kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia provinsi Sumatra Utara.

Kerusuhan terjadi ketika beberapa narapidana marah akibat tidak mendapat remisi pada Hari Kemerdekaan Indonesia, Sabtu (17/8).

“Sekitar 80 napi protes karena tidak mendapat remisi,” ujar Taufik, salah seorang narapidana.

“Kami juga tidak senang karena kami diperlakukan dengan buruk oleh para penjaga. Mereka menaruh kami di dalam sel-sel isolasi sempit untuk kejahatan kecil dan merantai kami,” tambah salah seorang tahanan, yang dipenjara karena kasus narkoba.

Kasus pada Minggu menyusul dua kasus sebelumnya di dua penjara Indonesia, yang pada umumnya berkondisi buruk dan sangat padat.

Pada kasus pertama, sekitar 150 narapidana, termasuk terdakwa kasus terorisme, melarikan diri dari LP Tanjung Gusta, Medan. Beberapa hari setelahnya, 11 narapidana kasus narkoba kabur dari sebuah penjara di Batam. (AFP)
XS
SM
MD
LG