Tautan-tautan Akses

Polisi Australia Kuasai Kembali Pusat Tahanan Imigran di Pulau Christmas


Seorang aktivis pro-imigrasi berdemonstrasi di Sydney mendukung para pencari suaka (foto: dok 2010).

Seorang aktivis pro-imigrasi berdemonstrasi di Sydney mendukung para pencari suaka (foto: dok 2010).

Kerusuhan di pusat tahanan imigrasi terbesar di Australia, di Pulau Christmas di Samudera Hindia, memaksa pemerintah untuk memindahkan sejumlah tahanan ke beberapa fasilitas yang ada di daratan. Dalam seminggu terakhir, terjadi sejumlah aksi kekerasan yang dilakukan para tahanan di kamp Pulau Christmas. Para demonstran mengatakan pihak berwenang Australia terlalu lama dalam memproses permohonan suaka mereka.

Bala bantuan polisi berhasil menguasai kembali pusat tahanan Pulau Christmas menyusul kerusuhan pekan lalu, tetapi para pendukung pengungsi mengatakan masih ada ketegangan besar di pulau yang letaknya 500 kilometer sebelah selatan Pulau Jawa.

Lebih dari 150 tahanan melarikan diri dan belum jelas berapa banyak yang masih buron. Dua tahanan ditemukan bersembunyi di semak-semak, Selasa pagi. Pusat tahanan tersebut penuh sesak. Dengan sekitar 2.500 pencari suaka, banyak di antaranya tinggal di tenda-tenda dan akomodasi sementara lainnya.

Sebagian besar arus pencari suaka datang dari Irak, Afghanistan dan Sri Lanka yang tiba dengan kapal di perairan utara Australia dalam beberapa bulan terakhir. Mayoritas pencari suaka yang datang lewat laut berada dalam penjara selagi klaim suaka mereka diperiksa.

Anggota parlemen oposisi, Scott Morrison, menuduh pemerintah pimpinan Partai Buruh tidak berkuasa di kawasan perbatasan Australia dan tidak menangani krisis dengan baik.

"Pemerintah, menurut saya, sangat malu dengan kegagalan besar mereka di Pulau Christmas. Dan, jelas tidak mungkin menambah jumlah tahanan ke Pulau Christmas ketika keadaan di sana sedang kacau. Setidaknya mungkin sekitar 300 tempat tidur hangus dibakar dalam kerusuhan yang terjadi di sana minggu lalu," ujar Morrison.

Demonstran di Pulau Christmas marah karena lamanya waktu yang dibutuhkan pihak berwenang untuk memproses permohonan suaka mereka. Sebagian di antaranya dilaporkan telah menunggu selama 18 bulan.

Para pejabat Australia mengatakan mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan itu bisa dikenai tuduhan kriminal. Para pendukung pengungsi mengatakan kondisi di kamp tahanan yang terpencil tersebut sangat buruk dan kamp itu harus ditutup.

Pemerintah mengatakan akan berupaya mengurangi kepadatan di Pulau Christmas. Dalam seminggu terakhir, 250 pendatang gelap yang ditangkap oleh angkatan laut Australia telah dibawa ke Australia, di mana klaim perlindungan mereka akan diproses.

Menteri Imigrasi Australia Chris Bowen menyangkal sistem penahanan itu gagal, tetapi mengakui adanya sejumlah kesulitan.

Bowen mengatakan, "Sudah jelas terdapat peningkatan jumlah kedatangan kapal. Jaringan kamp tahanan kami telah penuh sejak beberapa waktu. Saya menyadari hal itu, sejak saya menjabat sebagai menteri September lalu, dan saya sudah berupaya menangani isu-isu itu."

Dalam beberapa hari ini, muncul sejumlah masalah di kamp-kamp tahanan Australia lainnya, termasuk demonstrasi di sebuah pusat tahanan di dekat Melbourne. Penyelidikan terhadap kasus bunuh diri seorang pencari suaka asal Afghanistan berusia 20 tahun di tahanan imigrasi di Queensland sedang berlangsung.

Australia memberikan visa suaka kepada sekitar 13.000 pengungsi setiap tahun, melalui program kemanusiaan internasional. Kebanyakan pencari suaka yang tiba di Australia dengan kapal pada akhirnya dianggap benar-benar membutuhkan perlindungan, walaupun masalah ini telah memecah kesatuan politik di Australia.

XS
SM
MD
LG