Tautan-tautan Akses

7 Tewas dalam Protes atas Pembakaran al-Quran di Afghanistan


Para demonstran Afghanistan meneriakkan slogan-slogan anti Amerika setelah pasukan NATO membakar al-Quran (22/2).

Para demonstran Afghanistan meneriakkan slogan-slogan anti Amerika setelah pasukan NATO membakar al-Quran (22/2).

Puluhan demonstran lainnya cedera dalam penembakan oleh polisi yang terjadi di kota Kabul, provinsi Parwan, dan kota Jalalabad.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengimbau warga supaya tetap tenang setelah bentrokan beberapa hari antara pasukan keamanan Afghanistan dan demonstran menyebabkan sedikitnya tujuh orang tewas di seluruh pelosok negara itu.

Dalam sebuah pernyataan Rabu, Karzai mengatakan Afghanistan berhak untuk melakukan aksi protes, tapi ia mendesak mereka untuk tidak menggunakan kekerasan. Dia juga mengimbau para pengunjuk rasa untuk menunggu sampai penyelidikan selesai.

Para pejabat Afghanistan mengatakan sedikitnya tujuh orang tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan Afghanistan dan demonstran yang berunjuk rasa untuk hari kedua menentang pembakaran Al-Quran di sebuah pangkalan militer NATO.

Pihak berwenang mengatakan puluhan orang lagi juga terluka dalam aksi protes di ibukota, Kabul, provinsi Parwan dan Jalalabad.

Wartawan VOA di Jalalabad melihat pasukan keamanan Afghanistan dengan perlengkapan anti huru-hara berhadapan dengan demonstran yang melemparkan batu dan melakukan pembakaran. Polisi juga menggunakan selang air dari sejumlah kendaraan dalam upaya mengendalikan massa. Salah seorang pengunjuk rasa di tempat kejadian memberitahu VOA bahwa polisi telah melepaskan tembakan dari sebuah pos penjagaan dan salah seorang temannya kena tembakan.

Para pengunjuk rasa memberitahu VOA bahwa mereka ingin warga Amerika keluar dari negara mereka dan bahwa kata-kata saja tidak dapat mengubah sikap tidak sopan yang dialami umat Muslim.

Sementara itu, massa di ibukota, meneriakkan "Kematian Untuk Amerika" sambil melemparkan batu ke arah petugas, membakar mobil dan gedung serta memblokir beberapa jalan utama. Aksi protes itu memicu Kedutaan Besar Amerika untuk melarang semua stafnya keluar dan menangguhkan semua perjalanan.

Wakil Menteri Pertahanan Amerika Ashton Carter hari Rabu bertemu di Kabul dengan para pemimpin Afghanistan, termasuk Presiden Hamid Karzai, untuk meminta maaf sekali lagi atas insiden tersebut.

Sehari sebelumnya, komandan koalisi internasional, Jenderal John Allen, mengeluarkan permintaan maaf dan memerintahkan penyidikan atas laporan bahwa pasukan koalisi membakar sebagian besar buku agama Islam, termasuk Quran.

"Saya yakinkan Anda ... Saya berjanji kepada Anda ... ini sama sekali tidak. Saya minta maaf setulusnya karena telah melukai perasaan Presiden Afghanistan, pemerintah Republik Islam Afghanistan, dan yang paling penting, rakyat Afghanistan," ujar Jenderal Allen.

Seluk-beluk insiden itu tidak jelas. Menurut laporan yang belum dikukuhkan, tentara NATO di Pangkalan Udara Bagram akan memusnahkan sejumlah besar al-Quran dengan membakarnya, tetapi dicegah oleh warga Afghanistan yang bekerja di sana.

Protes Afghanistan terhadap pemusnahan kitab suci umat Islam telah berujung mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Bulan April 2011, kira-kira 20 orang tewas dalam beberapa hari aksi protes di seluruh Afghanistan setelah pendeta Amerika Terry Jones membakar sebuah al-Quran di gerejanya di Florida.


XS
SM
MD
LG