Tautan-tautan Akses

PMI Fasilitasi Pembangunan Hunian Sementara Korban Tsunami

  • Budi Nahaba

Korban tsunami di Mentawai akan segera dibantu membangun hunian tahan gempa.

Korban tsunami di Mentawai akan segera dibantu membangun hunian tahan gempa.

Pekan ini, PMI mulai melakukan kegiatan pemulihan awal, terutama memfasilitasi korban tsunami di Mentawai membangun hunian sementara mereka, yang tahan gempa.

Kepala Markas PMI Provinsi Sumatera Barat, Hidayatul Irwan saat dihubungi VOA (Sabtu, 13/11) mengatakan, pihaknya sampai sekarang terus melakukan tindakan tanggap darurat, dengan mendistribusikan berbagai bentuk bantuan kepada masyarakat korban tsunami di Mentawai.

Menurut Hidayatul, PMI menerjunkan sukarelawan tambahan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pemulihan awal, terutama di wilayah Pulau Pagai Selatan mendampingi warga korban tsunami membangun rumah hunian sementara.

“Selasa nanti kita akan dropping seratus sukarelawan lagi, untuk mulai memfasilitasi masyarakat untuk membuat hunian sementara. Untuk di Payanwi 516 buah rumah, untuk di Pagai selatan khususnya,” jelas Hidayatul Irwan.

Hidayatul Irwan menambahkan, dalam melaksanakan pemulihan awal tersebut pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, melalui BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

“Satu rumah kita beri 50 lembar seng, 1 unit shelter tool kit, ada biaya untuk pembelian material sebanyak 5 juta rupiah per kepala keluarga,” ungkap Hidayatul Irwan.

Pembangunan rumah hunian sementara untuk sekitar 500 kepala keluarga korban tsunami khusus di Sikakap ditargetkan selesai akhir Desember 2010.

Korban tsunami mendapatkan bantuan dari PMI.

Korban tsunami mendapatkan bantuan dari PMI.

“Kita punya target sebelum Natal , 516 rumah hunian sementara itu mudah-mudahan bisa siap. Tentu saja dengan diberikan kemudahan bagi kita terutama kondisi cuaca, kemudian regulasi pemerintah yangberkaitan dengan hak perdata tanah, regulasi pemerintah tentang pemancangan dan pematokan dimana mereka akan berada, yang kedua terkait cuaca, agar pekerjaan selesai sesuai target,” kata Hidayatul lebih jauh.

Ia juga mengungkapkan, “Masalah kesehatan, (yang muncul adalah) Malaria, ISPA (Gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Atas) , dimana mereka belum menempati rumah yang layak untuk mereka tempati. Mereka masih ada di tenda dan tempat-tempat yang darurat sekali.”

Dalam proses pembangunan rumah hunian sementara ramah gempa, pihak PMI akan melakukan kegiatan-kegiatan lain ditengah masyarakat korban tsunami Mentawai.

“Pendampingan untuk mendirikan rumah itu juga akan dilakukan kegiatan dukungan Psikososial, mobil klinik, promosi kesehatan, akan simultan dengan masyarakat yang menerima bantuan. Masih ada distribusi 2.000 kelambu lagi, hygine kits, family kit serta beberapa sarana komuniaksi radio dan lampu senter yang dengan tenaga surya (matahari),” kata Hidayatul Irwan.

Baru-baru ini, Kepala Pusat Informasi Riset Bencana Alam, Kementerian Riset dan Teknologi Pariatmono mengatakan tsunami yang melanda Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, disebabkan oleh gempa dengan guncangan berayun (slow earthquake) , berkekuatan 7,2 skala Richter (SR).

Pariatmono mengatakan, guncangannya yang berayun itu menyebabkan warga tidak segera menyelamatkan diri. Menurutnya, kejadian di Mentawai hampir sama dengan tsunami pada Juli 2006 lalu di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.

Sampai sekarang berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mentawai, jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami mencapai 461 orang. Warga yang belum ditemukan sebanyak 43 orang, korban luka berat yang masih dirawat di rumah sakit darurat dan Puskesmas Sikakap 14 orang.

BPBD Kabupaten Mentawai menyebutkan terdapat 7.830 orang yang masih bertahan di pengungsian.

XS
SM
MD
LG