Tautan-tautan Akses

PM Ukraina: Rusia Ingin Memulai Perang Dunia Ketiga


Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk saat berbicara di hadapan anggota parlemen di Kyiv, 18 April 2014 (Foto: dok).

Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk saat berbicara di hadapan anggota parlemen di Kyiv, 18 April 2014 (Foto: dok).

Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk menuduh Rusia ingin menduduki Ukraina “secara militer dan politik,” sementara baik pasukan Ukraina maupun pasukan Rusia dalam jumlah besar saling mendekat ke perbatasan kedua negara.

Yatsenyuk Jumat memperingatkan bahwa tindakan Rusia dapat menjurus ke konflik militer yang lebih luas di Eropa. Ia mengatakan dalam rapat kabinet interim bahwa Moskow “hendak memulai Perang Dunia ketiga”.

Pernyataannya muncul di tengah-tengah laporan mengenai kekerasan baru di Ukraina Timur, di mana militan pro-Rusia masih terus menduduki gedung-gedung pemerintah di belasan kota.

Sebuah helikopter militer Ukraina meledak hari Jumat di tarmak sebuah pangkalan di dekat Kramatorsk, kota di bagian timur. Sebagian pejabat Ukraina menyatakan ledakan itu disebabkan oleh granat berpendorong roket yang ditembakkan militan pro-Rusia, sedangkan yang lainnya mengatakan penyebabnya adalah tembakan tunggal yang dilepaskan penembak jitu ke arah tangki bahan bakar.

Para pejabat Ukraina Jumat mengatakan mereka berniat “memblokir” kota Slovyansk yang dikuasai pemberontak, sebagai bagian dari operasi “antiteror” di Ukraina Timur. Para pejabat Kamis mengatakan penindakan keras itu telah menewaskan hingga lima orang.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov Jumat mencela operasi keamanan Kyiv untuk menyingkirkan militan pro-Rusia, dengan menyebutnya sebagai “kejahatan berdarah.”

Jumat malam, Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengatakan militan pro-Rusia telah menahan para anggota misi pengamat Organisasi bagi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE), di Slovyansk. Kementerian itu mengatakan militan menghentikan sebuah bus yang membawa wakil-wakil OSCE dan lima anggota angkatan bersenjata Ukraina dan menahan para penumpangnya.

Sementara itu, Presiden Amerika Barack Obama hari Jumat membahas krisis Ukraina lewat telepon dengan Presiden Prancis Francois Hollande, Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Italia Matteo Renzi dan Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Gedung Putih mengatakan dalam pernyataan bahwa keempat pemimpin itu sepakat bahwa Ukraina telah mengambil “langkah-langkah positif” untuk mematuhi perjanjian empat-pihak yang ditandatanganinya di Jenewa pekan lalu untuk meredam ketegangan, sementara Rusia “tidak melakukannya.”

Menurut Gedung Putih, Obama mengatakan AS siap untuk menerapkan sanksi-sanksi baru untuk menanggapi tindakan terbaru Rusia, dan keempat pemimpin itu sepakat untuk mengoordinasi langkah-langkah tambahan untuk membebankan biaya kepada Rusia.

Berbicara kepada wartawan di Seoul Jumat pagi, Obama mengecam apa yang disebutnya “campur tangan” Rusia lebih jauh di Ukraina timur, mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin harus memutuskan apakah ia ingin melihat ekonomi negaranya yang sudah rentan menjadi semakin terpuruk karena dia gagal bertindak secara diplomatis di Ukraina.

Rusia dilaporkan meningkatkan secara dramatis jumlah tentara yang digelar di perbatasannya dengan Ukraina. Seorang diplomat Ukraia di PBB mengatakan kepada VOA bahwa Moskow telah melipatgandakan kehadiran militernya di perbatasan menjadi sekitar 80 ribu tentara.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG