Tautan-tautan Akses

Pilpres 2014 di Mata Pemilih Muda

  • Alina Mahamel

Suasana di salah satu TPS di kawasan Pancoran Mas, Depok, 9 Juli 2014 (Foto: VOA/Alina Mahamel)

Suasana di salah satu TPS di kawasan Pancoran Mas, Depok, 9 Juli 2014 (Foto: VOA/Alina Mahamel)

Data terakhir Komisi Pemilihan Umum, jumlah pemilih pemula yang baru akan menggunakan hak pilih untuk pertama kali dalam Pilpres 2014 mencapai 11 persen dari jumlah total Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang mencapai 190.307.134 orang.

Cuaca cerah sepanjang pagi hingga siang mewarnai proses Pemilihan Presiden 2014, Rabu 9 Juli. Meskipun banyak diantara pemilih muda yang datang ke TPS ini, belum terdaftar, namun tidak menghalangi niat mereka menggunakan hak suaranya.

Panitia Pemungutan Suara yang ada di sejumlah tempat di kawasan Depok, Jawa Barat, akhirnya memberikan kesempatan untuk memilih dengan cukup menunjukan KTP atau kartu identitas lainnya dengan waktu pemilihan antara pukul 12 hingga pukul 1 siang, dengan catatan surat suara masih tersedia di Tempat Pemungutan Suara (TPS) setempat.

Zahro, adalah mahasiswa perantau asal Kalimantan yang baru kali ini menggunakan hak pilihnya, Ia tidak terdaftar di TPS yang ada, namun kepada VOA ia mengatakan tetap mencoba dengan mendatangi TPS sejak pagi agar dapat menggunakan hak suaranya.

“Ini kesempatan pertama saya untuk memberikan suara, jadi senang banget bisa diberi kesempatan oleh panitia disini,” kata Zahro.

Sementara itu dari pantauan di sejumlah perkampungan mahasiswa yang ada di kawasan sekitar Kampus Universitas Indonesia, Depok, proses pemungutan suara berlangsung aman dan lancar. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia, Ivan Riansa mengatakan pihaknya telah mengadvokasi ratusan mahasiswa perantau yang tidak terdaftar dalam DPT untuk tetap dapat menggunakan hak suaranya.

“Kita telah mengadvokasi sekitar 800 orang mahasiswa rantau yang ingin menggunakan hak suaranya di wilayah Depok,” kata Ivan Riansa, Ketua BEM UI.

Menurutnya, meski antusiasme di kalangan mahasiswa ini cukup tinggi, jumlah ini menurun jika dibandingkan dengan pemilihan legislatif April lalu dimana mereka mengadvokasi lebih dari 1.000 mahasiswa untuk dapat menggunakan hak suaranya.

Rizky Pratama, adalah salah seorang pemilih yang baru akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali. Awalnya ia mengaku akan golput (tidak memilih), namun akhirnya ia memutuskan untuk memilih disaat-saat akhir jelang pelaksanaan pilpres.

“Awalnya saya ingin golput, tapi kalau golput kita gak akan berubah. Mahasiswa itu kan istilahnya agent of change (agen perubahan). Saya coba untuk membawa perubahan sederhana melalui Pemilu ini,” kata Rizky.

Sementara itu Riko Andrian adalah mahasiswa asal Jambi yang sedang menempuh kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat, UI. Pilpres kali ini menjadi pemilu kedua yang diikutinya. Meski mengaku harus sedikit repot dengan mengurus administrasi agar ia dapat terdaftar, ia tetap antusias karena ia memiliki harapan terhadap presiden baru Indonesia mendatang.

“Kalau melihat perkembangan bangsa kekinian, citra pemimpin itu dulu gayanya parlente, sekarang kita ingin pemimpin yang turun ke lapangan, turun ke rakyat, turun ke bawah,” kata Riko Andrian.

Pengamat politik senior LIPI. Siti Zuhro menilai para pemilih muda yang dikenal kritis dan rasional, sangat aktif memanfaatkan informasi dari media sosial, namun menurutnya kalangan muda ini juga mempertimbangkan informasi yang utuh dari sumber yang tidak kalah penting yakni keluarga.

“Yang paling berpengaruh terhadap pemilih muda ini justru datang dari keluarganya sendiri yakni orangtua yang sangat berpengaruh pada keputusannya dalam memilih,” kata Siti Zuhro.

XS
SM
MD
LG