Tautan-tautan Akses

Pidato Obama di PBB Imbau Dunia Hindari Perang dan Konflik


Presiden AS Barack Obama memberikan pidato pada sidang Majelis Umum PBB di New York, hari Senin (28/9).

Presiden AS Barack Obama memberikan pidato pada sidang Majelis Umum PBB di New York, hari Senin (28/9).

Presiden AS Barack Obama hari Senin (28/9) mengimbau dunia untuk menghindari perang dan konflik dan sebaliknya terlibat dalam upaya-upaya diplomatik baru untuk menyelesaikan konflik di seluruh dunia.

Dalam sidang Majelis Umum PBB, Presiden AS Barack Obama mengatakan “jika kita tidak bisa bekerjasama, kita akan menghadapi konsekuensinya. Kita akan lebih kuat kalau kita bekerjasama.”

Meskipun demikian Presiden Obama juga mempertahankan perlunya kekuatan militer amerika dan kampanye Amerika melawan ISIS di Timur Tengah. Ia mengatakan ISIS tidak akan bisa memperoleh tempat persembunyian yang aman.

Obama mengecam Rusia karena menganeksasi Semenanjung Krimea di Ukraina tahun lalu dan terlibat mendukung kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina Timur. Ia mengatakan sanksi-sanksi ekonomi Barat terhadap Rusia perlu karena tidak ada satu negarapun bisa membiarkan pengambilalihan Krimea.

Presiden Obama mengatakan tidak ada “jawaban sederhana” untuk mengakhiri perang saudara yang sudah berlangsung selama empat tahun di Suriah tetapi diplomasi harus digunakan untuk “mencapai perjanjian damai bagi rakyat Suriah” agar mereka bisa hidup bersama secara damai. Obama mengecam keras Presiden Bashar Al Assad sebagai seseorang “yang menjatuhkan bom-bom tong pada rakyatnya sendiri”.

Obama menambahkan setelah begitu banyak terjadi pembantaian dan pertumpahan darah, Suriah tidak lagi bisa kembali ke masa status-quo sebelum perang. Obama menyerukan masa transisi menjelang penggantian Presiden Suriah Bashar Al Assad.

“Bencana seperti di Suriah tidak terjadi di negara-negara dimana ada demokrasi sejati,” tambah Obama.

Pejabat-pejabat pemerintah Obama sudah berulangkali mengatakan transisi politik tidak bisa terjadi di Suriah selama Assad masih berkuasa. Isu itu diperkirakan akan menjadi pusat perhatian dalam pembicaraan antara Presiden Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin Senin sore.

Menurut juru bicara Gedung Putih Josh Earnest, pertemuan ini adalah pembicaraan resmi pertama yang dilangsungkan pemimpin Amerika dan Rusia sejak KTT G-8 bulan Juni 2013 lalu dan diselenggarakan setelah berulangkali diminta oleh Rusia. Pertemuan ini juga dilaksanakan di tengah keprihatinan Amerika terkait perluasan kehadiran militer Rusia di Suriah.

Presiden Obama sekali lagi akan menjelaskan bahwa meningkatnya dukungan Rusia terhadap rejim Assad adalah usaha yang sia-sia”, ujar Earnesh kepada wartawan pekan lalu.

Dalam pidato di PBB, Presiden Obama mengatakan apabila pemimpin-pemimpin dunia mempercayai rakyat di negara mereka dan membuka jalur demokrasi maka “yang muncul adalah kekuatan, bukan kelemahan”.

“Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang mengabaikan kepentingan rakyatnya akhirnya akan hancur”.

Secara khusus Presiden Obama menyebut perjanjian internasional yang diselesaikan baru-baru ini untuk mencegah Iran membangun senjata nuklir, sebagai contoh diplomasi yang sukses. [em/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG