Tautan-tautan Akses

Penyintas Bom Atom Hiroshima Ingin Obama Rasakan Kepedihan Mereka

  • Brian Padden

Keiko Ogura berusia delapan tahun saat dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima. (VOA/B. Padden)

Keiko Ogura berusia delapan tahun saat dijatuhkannya bom atom di kota Hiroshima. (VOA/B. Padden)

Para penyintas berharap Obama akan mengakui, bukan minta maaf, atas kerugian dan penderitaan dahsyat akibat penggunaan senjata nuklir AS terhadap Jepang pada akhir PD II.

Presiden Amerika Barack Obama akan berkunjung ke Hiroshima bulan ini ketika ia menghadiri KTT G-7 di Jepang.

Obama tampaknya akan menggunakan kunjungan ini untuk memusatkan perhatian dunia pada meningkatnya ancaman program nuklir Korea Utara, yang diperkirakan akan menjadi salah satu agenda KTT G-7.

Tetapi para penyintas Hiroshima juga berharap ia akan mengakui, bukan minta maaf, atas kerugian dan penderitaan dahsyat akibat penggunaan senjata nuklir Amerika terhadap Jepang pada akhir Perang Dunia Kedua.

Pada 6 Agustus 1945 Amerika menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima, menewaskan sekitar 140 ribu orang, termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat paparan radiasi intens.

Kini Hiroshima Peace Memorial Park, yang terletak di pusat ledakan itu, mengenang mereka yang meninggal dan menderita akibat bom itu.

Sebagian penyintas, seperti Keiko Ogura yang berusia 79 tahun, ingin agar Presiden Obama datang ke sana, mengakui konsekuensi bencana akibat penggunaan senjata nuklir.

“Sebelum saya meninggal, saya ingin bertemu presiden Amerika, presiden yang masih berkuasa. Bukan supaya ia minta maaf. Hanya sebagai manusia, dia dan kami berdiri di tanah yang sama, dan berdoa bagi mereka yang sudah meninggal”.

Museum yang terletak di dalam taman itu menyimpan foto-foto dan artefak ledakan dan kehancuran akibat bom atom pertama di dunia itu.

Ogura, yang ketika itu baru berusia delapan tahun, mengatakan ia yang berada 2,5 kilometer dari pusat ledakan, terhempas keras akibat kedahsyatan ledakan itu.

“Ketika saya sadar, semuanya gelap, saya tidak bisa melihat apapun dan kemudian senyap”.

Dalam peristiwa yang sama, Sunao Tsuboi hari itu difoto oleh sebuah surat kabar lokal ketika ia berjubel bersama penyintas lainnya. Tsuboi menderita luka bakar parah dan ia ingat bagaimana ia merasa berdosa karena untuk bertahan hidup ia memanjat suatu tumpukan yang menurutnya adalah tumpukan mayat.

“Mereka semua tewas tetapi diantara mereka ada beberapa orang yang masih hidup. Ia membentak saya dengan suara keras”.

Dari sudut pandang pihak yang memenangkan perang, bom atom itu menyelamatkan banyak nyawa tentara Amerika karena membuat perang berakhir lebih cepat.

Tetapi bom-bom itu juga membunuh ribuan warga sipil tak berdosa, dan banyak korban yang meninggal beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian karena beragam penyakit kanker akibat paparan radiasi.

Para penyintas ini berharap kunjungan Presiden Obama ke Hiroshima tidak menghidupkan kembali perdebatan tentang keputusan Amerika menjatuhkan bom itu, tetapi akan mendorong komitmen internasional untuk menghapus segala bentuk senjata nuklir pada masa depan. [em/ds]

XS
SM
MD
LG