Tautan-tautan Akses

Peta Baru Tunjukkan Jumlah Air Tanah di Bumi


Seorang anak perempuan minum air dari keran di tengah-tengah krisis air bersih di Sanaa, Yaman, 24 April 2015. (Reuters/Mohamed al-Sayaghi)

Seorang anak perempuan minum air dari keran di tengah-tengah krisis air bersih di Sanaa, Yaman, 24 April 2015. (Reuters/Mohamed al-Sayaghi)

Peta pertama yang menunjukkan air tanah yang tersembunyi diterbitkan hari Senin (16/11), satu langkah lebih maju untuk memungkinkan kita menghitung berapa banyak air tanah yang tersedia dan kapan akan habis kalau kita terus-terusan menggunakannya secara berlebihan.

Menggunakan model data dan komputer, satu tim peneliti internasional memperkirakan kurang dari enam persen dan mungkin hanya satu persen air ditemukan dekat permukaan Bumi yang bisa diperbarui.

"Hal ini belum pernah diketahui sebelumnya," kata Tom Gleeson dari Universitas Victoria, Kanada dan pemimpin penelitian ini, dalam sebuah pernyataan. "Kita tahu bahwa kadar air di banyak akuifer telah berkurang. Kita menggunakan air tanah terlalu cepat, lebih cepat daripada kemampuan memperbarui air."

Penelitian tersebut, diterbitkan di jurnal Nature Geoscience, memperkirakan jumlah total air tanah hampir 23 juta kubik kilometer, 0,35 juta kubik di antaranya berusia kurang dari 50 tahun.

Air tanah ditemukan di bawah permukaan Bumi dan diisi ulang oleh hujan, salju atau air yang bocor dari dasar danau dan sungai.

Usia air tersebut bervariasi mulai dari beberapa bulan hingga jutaan tahun. Air tanah bisa ditemukan sedalam 9 km, menurut Badan Survei Geologi AS atau United States Geological Survey (USGS).

"Karena kini kita tahu berapa banyak air tanah telah berkurang dan berapa banyak yang masih tersisa, kita bisa memperkirakan kapan kita akan kehabisan air," kata Gleeson.

Walaupun air yang ditemukan lebih dekat ke permukaan bumi bisa diperharui lebih cepat daripada air yang terletak lebih jauh di perut Bumi, air tersebut lebih rentan terhadap kontaminasi dan perubahan iklim, tapi juga bisa untuk mengatasi cuaca yang ekstrim, kata Gleeson.

Air yang ditemukan jauh di perut bumi sering digunakan untuk pertanian dan industri. Air di tempat itu juga mungkin mengandung arsenik dan uranium dan sering kali lebih asin daripada air laut, tambahnya.

"Air tanah bisa dan seharusnya dianggap sebagai pelindung terhadap iklim ekstrim," kata Gleeson pada Thomson Reuters Foundation dalam sebuah wawancara telepon dari Kanada.

"Bila diatur dengan baik, air mengalir ke laut saat kekeringan sehingga menjadi sumber yang berharga dan strategis untuk mengatasi dampak iklim yang ekstrem terhadap ketersediaan air."

Menurut penelitian tersebut, sebagian besar air tanah ditemukan di kawasan tropis dan pegunungan, dan beberapa deposit besar terletak di Amazon Basin, Kongo, Indonesia dan sepanjang perbatasan barat Amerika Utara dan Selatan.

Deposit air paling sedikit ada di kawasan yang gersang seperti Sahara. [dw]

XS
SM
MD
LG