Tautan-tautan Akses

Pesawat Uni Emirat Arab Bombardir Pemberontak Houthi di Yaman


Pemberontak Syiah Houthi siaga di lokasi yang baru saja terkena serangan udara pesawat Uni Emirat Arab di Sana'a, Yaman (5/9).

Pemberontak Syiah Houthi siaga di lokasi yang baru saja terkena serangan udara pesawat Uni Emirat Arab di Sana'a, Yaman (5/9).

Pesawat-pesawat tempur Uni Emirat Arab mengebom target-target pemberontak Syiah Houthi di berbagai penjuru Yaman Sabtu (5/9)

Pesawat-pesawat tempur Uni Emirat Arab mengebom target-target pemberontak Syiah Houthi di berbagai penjuru Yaman Sabtu (5/9), sehari setelah sedikitnya 55 tentara koalisi yang dipimpin Arab Saudi tewas akibat serangan rudal pemberontak.

Menurut sumber-sumber medis di berbagai rumah sakit di ibukota, Sana’a, yang selama hampir satu tahun praktis dikuasai milisi Houthi yang didukung Iran, sekitar 24 warga sipil tewas di kota itu akibat serangan-serangan tersebut, lapor Reuters mengutip kantor berita Emirat, WAM.

Serangan udara tersebut berlangsung satu hari setelah 10 tentara Saudi tewas dalam serangan misil pemberontak yang menghantam gudang amunisi di Marib, sekitar 120 kilometer sebelah timur Sana’a. Serangan itu juga menewaskan 45 tentara Emirat dan lima Bahrain, sebut media Saudi hari Sabtu. Baru pertama kali ini ada tentara Saudi yang tewas di dalam wilayah Yaman.

Ini merupakan pengakuan terbuka pertama oleh Saudi bahwa mereka menempatkan pasukan darat di Yaman, di mana mereka memimpin koalisi yang menarget pemberontak Houthi Syiah dukungan Iran dan sekutu-sekutu mereka.

Jumlah korban pada hari Jumat itu merupakan yang terbanyak bagi koalisi sejak memulai serangannya terhadap Houthi pada Maret lalu, dan merupakan salah satu yang terburuk dalam sejarah militer Uni Emirat Arab.

Kebanyakan anggota koalisi yang dipimpin Saudi dan didukung Amerika itu adalah negara-negara Teluk. Mereka melancarkan serangan udara terhadap pemberontak sejak Maret, sebagai bagian dari kebijakan militer Saudi dan Uni Emirat Arab yang kian tegas, yang dimaksudkan untuk mengembalikan kekuasaan pemerintah Presiden Abdu-Rabu Mansour Hadi yang beraliran Sunni dan kini tinggal di pengasingan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG