Tautan-tautan Akses

Pesantren Waria Al Fatah, Forum Jihad Islam akan Adakan Pertemuan

  • Munarsih Sahana

Shinta Ratri duduk di bagian teras (depan) dari rumahnya yang selama ini dijadikan pesantren waria Al Fatah dimana para waria belajar tentang agama Islam (Foto: VOA/Munarsih)

Shinta Ratri duduk di bagian teras (depan) dari rumahnya yang selama ini dijadikan pesantren waria Al Fatah dimana para waria belajar tentang agama Islam (Foto: VOA/Munarsih)

Menyusul kedatangan para anggota Front Jihad Islam (FJI) yang memprotes kegiatan Pesantren Waria AL Fatah di Kotagede Yogyakarta Jumat lalu (19/2), dalam waktu dekat pihak FJI dan pesantren waria akan melakukan pertemuan guna mencari titik temu.

Sehari setelah kedatangan para anggota FJI, pesantren waria Al Fatah sudah tampak seperti biasa, pintu depan maupun belakang rumah terbuka lebar. Di rumah gaya Limasan yang luas di kawasan padat penduduk Kotagede milik Shinta Ratri yang sejak 2014 menjadi pusat kegiatan pesantren waria itu tetap menerima banyak tamu.

Shinta Ratri selaku pimpinan pesantren mengaku untuk sementara semua kegiatan kajian agama dihentikan hingga tercapainya kesepakatan dalam pertemuan yang direncanakan dengan FJI.

“Keputusan kita, nanti itu akan ada pertemuan pihak pesantren dengan pihak Front Jihad Indonesia (FJI) saling memberikan pemahaman. Itu nanti akan dimediasi oleh Kapolsek (Banguntapan). Di dalam pertemuan itu juga ada Kyai Abdul Muhaimin, ada juga dari pihak kecamatan dan kelurahan disini. Sementara aktivitas keagamaan tidak kami adakan sama sekali,” kata Shinta Ratri.

Sekretaris pesantren Al Fatah, mBak Y.S. mengaku shock dengan kedatangan FJI yang memprotes kegiatan belajar agama di pesantren yang berdiri tahun 2008 itu.

“Secara psikis membuat teman-teman waria down. Insya Allah teman-teman memilih semangat untuk tetap beribadah. Saya sendiri juga bingung ketika seseorang ingin beribadah kenapa justri dihalangi. Harapannya sih pondok pesantren tetap ada karena itu merupakan ruang buat memfasilitasi teman-teman beribadah. Juga memberikan ruang yang nyaman waria beribadah, karena dengan jender sebagai waria kita sudah membuat ketidak-nyamanan sendiri dulu ketika mengakses ibadah di tempat umum. Tujuan kita murni hanya untuk beribadah, belajar agama, secara kualitas hidup saya sendiri kini menjadi lebih tertata dengan perilaku saya,” kata Mbak Y.S.

Mbak Y.S sendiri mengaku nyaman menjalankan ibadah shalat dengan mengenakan sarung dan baju koko, sedangkan rekan yang lain lebih nyaman mengenakan mukena. Rekan waria lainnya, mBak Nur juga mengaku bingung ketika mendengar pesantren akan diprotes oleh kelompok FJI.

“Ya kita tidak menyangka ada peristiwa seperti itu karena disini kita benar-benar belajar saja, belajar Iqro’ belajar shalat, wushu yang benar saja. Ya waktu itu bukannya lari, tetapi sekedar menyelamatkan diri saja,” lanjutnya.

Kyai Abdul Muhaimin, pendiri dan pengasuh pesantren putri Nurul Ummahat, juga di Kotagede yang ikut membina pesantren Al Fatah menegaskan, para waria itu benar-benar belajar agama. Bahkan kegiatan mereka sudah sepengetahuan Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY.

“Ya mereka itu orang yang beribadah ya dilindungi, diberi kemerdekaan. Di sini mereka mengaji beneran tidak ada yang negatif. Seharusnya dibantu dicarikan jalan keluar, diperlancar gitu lho. Diskusi-diskusi di sini berjalan baik, dan sebelum menyelenggarakan acara pasti datang ke rumah saya. Masyarakat juga menerima, dan masyarakat kalau saya ngaji itu mereka juga datang kok,” jelas Kyai Abdul Muhaimin.

Agnes Dwi dari Komunitas Masyarakat Bhineka Tunggal Ika mengingatkan, berdasarkan konstitusi tidak semestinya orang melakukan intimidasi terhadap oarang yang melakukan ibadah di rumahnya sendiri.

“Semua warga negara memiliki hak yang sama di republik ini tidak boleh ada yang diancam, tidak boleh diintimidasi juga tidak boleh ada orang mengusir orang lain karena konstitusi kita menjamin itu. Ini kan rumah sendiri, secara hukum administrasi ia juga tercatat sebagai warga negara, tidka boleh ada orang melakukan mengusiran, anca,man dan intimidasi, kekerasan tidak boleh dilakukan,” kata Agnes.

Sementara itu, Kepala Polsek Banguntapan Kompol Suharno menjamin sepenuhnya keamanan pesantren Al Fatah.

“Jadi yang penting situasi harus aman, harus kondusif, itu saja buat saya, sampai aman tidak ada jatahnya berapa hari. Tidak ada batas waktunya karena ini wilayah saya, wilayah Banguntapan sampai benar-benar aman. Mulai hari ini Babin saya akan disini setiap hari setiap detik jika perlu untuk memberikan pengamanan di sini,” kaya Kompol Suharno. [ms/ab]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG