Tautan-tautan Akses

Perusahaan yang Ramah untuk Penyandang Cacat


Jika perusahaan mengubah cara perekrutan dan lingkungan kerja mereka selama ini, maka banyak penyandang cacat akan bisa bekerja.

Jika perusahaan mengubah cara perekrutan dan lingkungan kerja mereka selama ini, maka banyak penyandang cacat akan bisa bekerja.

Bertepatan dengan Hari Buruh internasional 1 Mei ini, bagaimanakah nasib kaum pekerja yang menyandang cacat? Sebuah perusahaan AS mengadaptasi bisnisnya untuk pekerja penyandang cacat.

1 Mei adalah Hari Buruh Internasional, untuk memperingati perjuangan akan hak-hak kaum buruh yang sampai saat ini masih banyak belum terpenuhi, seperti upah rendah, keselamat kerja yang tidak terjamin dan lain sebagainya.

Dari sekitar 20 juta orang cacat usia produktif di Amerika hampir 80 persennya bekerja paruh waktu sepanjang tahun. Ini sebagian disebabkan karena kebanyakan majikan tidak memberikan akomodasi bagi pekerja cacat.Tapi satu perusahaan di Michigan cukup inovatif, mengadaptasi setiap aspek bisnisnya untuk orang-orang cacat.

Mesin-mesin jahit di pabrik Peckham di Lansing, Michigan, memproduksi 300.000 pakaian per bulan untuk militer Amerika - dari pakaian dalam hingga jaket penghangat. Sekitar 1.200 karyawan bekerja dalam dua shift per hari untuk memenuhi sasaran produksi.

Bukan sesuatu yang luar biasa ... kecuali mengingat 85 persen dari pekerja nya adalah orang cacat - dari tuna netra, tuna rungu, hingga orang-orang yang mengalami trauma emosional atau penyakit mental lainnya - kata manajer operasi Ed Terris.

"Ben dan Chuck adalah tunanetra, tapi kami mampu untuk mengembangkan peralatan yang memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam produksi pakaian setiap hari,” demikian disampaikan Ed Terris.

Peckham adalah sebuah organisasi nirlaba, yang melatih dan mempekerjakan penyandang cacat. Mereka menggunakan apa yang disebut "teknologi pembantu" –untuk memungkinkan penyandang cacat bekerja dengan baik.

"Meja ini dirancang untuk memungkinkan mereka memotong ujung-ujung benang dari pakain yang sudah jadi,” kata Ed menunjukkan sebuah meja khusus yang memungkinkan orang yang tidak melihat tetap bisa bekerja.

Chuch Ayotte, seorang pekerja tuna netra, berkata, "Ada lubang kecil di sini dan jika Anda taruh benang itu di dalamnya dan benang itu terpotong dengan sendirinya. Kebaikan alat ini adalah Anda tidak akan cedera kalau meletakkan jari di lubang itu dengan tidak sengaja.”

Sementara itu, Amy Rose Heyboer, pekerja lainnya, sebagian besar hidupnya menderita penyakit Attention Deficit Disorder, atau ADD, dan Kompulsif Obsesif. Sebelum dia bekerja di perusahaan Peckham tiga tahun lalu, penyakit mentalnya menyebabkan dia pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain – yang menyulitkannya, secara emosional maupun finansial.

Mary mengatakan, “Saya pikir ada sesuatu yang salah dengan saya, yaitu saya tidak melakukan pekerjaan saya dengan baik karena saya tidak termotivasi.”

Tapi pengawas Heyboer di sini cepat memindahkannya dari satu tugas ke tugas yang lainnya supaya perhatiannya terpusat dan tidak terpecah. Sekarang dia mengawasi pekerja lain.

"Saya akhirnya sadar bahwa ini mungkin bukan salah saya ... dan tempat ini benar-benar penting karena orang-orang di sini bisa melihat hal itu. Ok, dia punya masalah tapi itu bukan salahnya. Bagaimana kita dapat menyesuaikan keadaan ini sehingga cocok dengannya ? ' Dan itulah tujuan kita,” papar Mary.

Shift satu telah berakhir, dan pekerja di pabrik pakaian tersebut telah memenuhi quota produksi hari itu, yang disambut dengan tepuk tangan gembira para pekerja.

Peckham didanai sebagian oleh program pemerintah federal yang membeli produk dan jasa dari organisasi nirlaba yang mempekerjakan penyandang cacat. Tapi pendukung penyandang cacat mengatakan kecuali lebih banyak perusahaan mengubah cara perekrutan mereka dan lingkungan tempat kerja, jutaan orang cacat lainnya tidak akan mendapat kesempatan bekerja di Amerika.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG