Tautan-tautan Akses

Perusahaan Ritel Rundingkan Ganti Rugi bagi Musibah Pabrik Bangladesh


Seorang pekerja pabrik garmen melakukan inspeksi setelah musibah kebakaran di Dhaka, Bangladesh (9 Mei 2013).

Seorang pekerja pabrik garmen melakukan inspeksi setelah musibah kebakaran di Dhaka, Bangladesh (9 Mei 2013).

Para perwakilan dari beberapa perusahaan ritel terbesar di dunia bertemu di Jenewa untuk merundingkan ganti rugi bagi para korban dua bencana maut di pabrik-pabrik garmen Bangladesh.

Kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 70 juta dolar. Organisasi Buruh Internasional (ILO) memediasi pertemuan di Swiss itu untuk menetapkan bagian yang harus dibayar masing-masing perusahaan ritel untuk biaya ganti rugi itu.

Bangladesh adalah eksportir pakaian terbesar kedua setelah Tiongkok, dan memiliki 3,6 juta pekerja di industri tersebut. Namun industri di sana mengalami dua musibah besar tahun lalu. Lebih dari 1100 orang tewas ketika pabrik delapan lantai tempat mereka bekerja ambruk April lalu, dan 112 pekerja meninggal dalam kebakaran pabrik November lalu.

Primark dari Inggris, Loblaw dari Kanada dan KiK Textilien dari Jerman adalah di antara perusahaan-perusahaan yang merundingkan ganti rugi itu. Namun, perusahaan ritel terbesar di dunia dan salah satu importir terbesar pakaian Bangladesh, yakni Walmart yang berbasis di Amerika, tidak hadir dalam perundingan itu, begitu pun halnya perusahaan ritel Italia Benetton dan perusahaan ritel Spanyol Mango.

Wal-Mart mengatakan pakaian yang diimpornya dari Bangladesh memang diproduksi di kedua pabrik itu, tapi tanpa sepengetahuan mereka.

Walmart mengatakan, produksi pakaian-pakaian itu dialihkan ke pabrik-pabrik itu tanpa seizin mereka. Sejak kecelakaan-kecelakaan itu, Wal-Mart memfokuskan pada usaha memberi pinjaman untuk memperbaiki kondisi pabrik, ketimbang membayar ganti rugi bagi para korban kedua musibah itu.
XS
SM
MD
LG