Tautan-tautan Akses

Dampak Brexit, Perusahaan Finansial Bersiap Tinggalkan Inggris


Salah satu cabang Lloyds Bank di London (foto: ilustrasi). Lloyds Bank akan melakukan PHK ribuan karyawan dan menutup 200 cabangnya pasca keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Salah satu cabang Lloyds Bank di London (foto: ilustrasi). Lloyds Bank akan melakukan PHK ribuan karyawan dan menutup 200 cabangnya pasca keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Pimpinan perbankan mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan finansial bersiap-siap meninggalkan Inggris sebelum negara ini secara resmi keluar dari Uni Eropa.

Pimpinan Asosiasi Bank Inggris memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan finansial bersiap-siap untuk mulai meninggalkan Inggris dalam beberapa minggu mendatang karena ketidak pastiaan mengenai keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Pimpinan asosiasi itu Anthony Browne dalam artikel yang diterbitkan hari Minggu mengatakan bank-bank itu khawatir politisi Uni Eropa akan membuat batasan-batasan perdagangan dengan Inggris untuk mengecilkan peran kota London yang sekarang merupakan distrik keuangan penting Eropa. Mereka juga khawatir perusahaan-perusahaan yang berkantor pusat di Inggris akan kehilangan hak untuk melakukan bisnis di seluruh Uni Eropa.

Browne dalam harian The Observer menulis para pejabat bank, sudah “tidak sabar untuk pindah”. Ia mengatakan banyak bank-bank kecil merencanakan untuk mulai memindahkan lokasinya sebelum Natal, bank-bank besar diperkirakan akan mulai melakukannya pada kwartal pertama tahun depan”.

Browne mengatakan pajak akan merugikan Inggris dan Uni Eropa tapi argumen ekonomi mungkin diabaikan di tengah-tengah retorika politik yang makin tajam dari kedua pihak.

Ia mengatakan pemerintah-pemerintah nasional mungkin akan menggunakan “perundingan keluar Uni Eropa untuk membangun pembatas di seluruh jaringan keuangan untuk memecah pasar keuangan Eropa yang terintegrasi menjadi dua, untuk memaksa pekerjaan keluar dari London”.

Perdana Menteri Inggris Theresa May berkali-kali mengatakan “Brexit berarti Inggris keluar dari Uni Eropa” yang menunjukkan pemerintahnya tidak bersedia berkompromi agar Inggris bertahan dalam pasar tunggal Uni Eropa.

Menteri-menteri Inggris telah menekankan perlunya negara itu mengontrol imigrasi yang bertentangan dengan prinsip kebebasan bergerak Uni Eropa. Para pemimpin Uni Eropa mengatakan mengakhiri kebebasan bergerak akan membuat Inggris mustahil bertahan dalam pasar tunggal itu.

Pemerintah Inggris dalam sebuah pernyataan mengatakan “sangat menyadari pentingnya sektor layanan keuangan bagi perekonomian Inggris”. Pernyataan itu mengatakan para pejabat Inggris “punya sumber daya yang diperlukan untuk mendapat kesepakatan terbaik bagi Inggris”. [my/ii]

XS
SM
MD
LG