Tautan-tautan Akses

Perusahaan Asia Tenggara Bersinar di Tengah Krisis Korporat Global


Pipa gas milik Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), salah satu korporasi Asia Tenggara yang mencatat kinerja dan pertumbuhan laba yang kuat. (Foto: Reuters/Supri)

Pipa gas milik Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), salah satu korporasi Asia Tenggara yang mencatat kinerja dan pertumbuhan laba yang kuat. (Foto: Reuters/Supri)

Perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengalami pertumbuhan laba yang kuat di tengah krisis korporat global.

Asia Tenggara telah menjadi tempat yang bersinar di tengah penurunan pendapatan korporat global, dengan pertumbuhan laba kuat yang didorong oleh populasi 600 juta orang yang semakin mampu dan mau mengeluarkan uang dalam pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Perusahaan-perusahaan di wilayah ini diperkirakan akan melaporkan kenaikan laba kuartal sebesar rata-rata 16,2 persen dibandingkan setahun lalu, menurut laporan perusahaan konsultan Morgan Stanley bulan ini.

Hal ini berbeda dengan Tiongkok dan wilayah Asia Pasifik lainnya seperti Australia, yang sangat bergantung pada daya beli yang sekarang melemah dari ekonomi-ekonomi besar seperti Tiongkok.

“Pertumbuhan ekonomi di wilayah ini diperkirakan akan ditopang oleh konsumsi domestik, didorong oleh pengeluaran fiskal, investasi swasta dan peningkatan upah. Tren ini tampak jelas di Thailand, Indonesia, Malaysia dan Filipina,” ujar Ronald Chan, kepala ekuitas Asia di perusahaan Manulife Asset Management.

"Permintaan domestik terjadi secara struktural dan alami serta belum mengalami kejenuhan.”

Laporan Morgan Stanley menunjuk pada kinerja yang kuat dari perusahaan-perusahaan termasuk distributor gas Perusahaan Gas Negara (PGN), perusahaan minyak terkemuka Thailand PTT Pcl dan konglomerasi Filipina San Miguel Corp.

Laba yang tinggi sangat kontras dengan cerita di Tiongkok, yang suatu waktu menjadi favorit investor untuk pasar ekonomi baru.

Perusahaan-perusahaan di Indonesia, Filipina dan Thailand ada di peringkat atas dalam Skor Revisi Analis yang dikeluarkan StarMine, yang mengukur perubahan dalam sentimen dari para analis. Australia, Tiongkok, Korea Selatan dan Taiwan tidak memiliki nilai yang baik.

Para investor telah mencatat perubahan ini. Lingkungan operasi jauh lebih kuat di negara-negara seperti Filipina, Malaysia, Indonesia, bahkan India, ujar Citi's Woods.
Indonesia mencatat rekor investasi langsung asing (FDI) sebesar US$5,9 miliar pada kuartal ketiga tahun ini, menandakan negara ini masih menjadi tempat favorit di tengah prospek ekonomi global yang buram dan kekhawatiran masalah korupsi dan tata pemerintahan.

Perusahaan-perusahaan di wilayah ini juga secara agresif mengejar target akuisisi di Asia Tenggara untuk mendorong pertumbuhan.

Sebuah perusahaan properti dan hotel yang terdaftar di bursa Singapura disokong oleh Lippo Group dari Indonesia menyatakan minggu lalu bahwa mereka akan mencoba mengambil alih konglomerasi Fraser & Neave Ltd, menantang tawaran sebesar $7,2 miliar dari perusahaan-perusahaan yang dikuasai oleh pria terkaya ketiga di Thailand. (Reuters/Anshuman Daga)
XS
SM
MD
LG