Tautan-tautan Akses

Perundingan Iklim PBB Gagal Susun Kerangka bagi Perjanjian Baru

  • Rosanne Skirble

Para aktivis lingkungan melakukan unjuk rasa pada konferensi iklim di Warsawa, Polandia dengan mengenakan topeng para pemimpin dunia (22/11)

Para aktivis lingkungan melakukan unjuk rasa pada konferensi iklim di Warsawa, Polandia dengan mengenakan topeng para pemimpin dunia (22/11)

Selama dua minggu terakhir para perunding dari 190 negara bertemu di Warsawa, Polandia menghadiri perundingan tahunan PBB mengenai Iklim yang berakhir hari Sabtu.

Para delegasi berhasil mempertahankan agar proses perjanjian terus berlangsung dengan menyetujui rencana tindakan di dalam negeri untuk mengurangi emisi.

Annie Petsonk, penasehat internasional dan pakar perjanjian Environmental Defense Fund mengatakan para perunding di Warsawa tidak berhasil menyusun kerangka kerja bagi sebuah perjanjian baru.

Annie Petsonk mengatakan, "KTT tidak gagal. Itu baik. Tapi kami tidak mengharapkan ada terobosan besar dalam pertemuan ini. Kami hanya berharap konferensi akan mengarah pada pertemuan yang berarti."

Menurut Petsonk, meskipun perundingan berlangsung selama dua minggu para delegasi tidak membuat kemajuan mengenai penetapan sasaran untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil dari pembangkit-pembangkit listrik, mobil dan bangunan-bangunan yang mengakibatkan pemanasan global.

"Isu kedua adalah pendanaan yang akan diberikan negara-negara kaya untuk membantu negara-negara miskin mengurangi emisi serta beradaptasi dengan perubahan iklim. Terkait dua isu itu, pengurangan emisi dan pendanaan, tidak ada kemajuan penting dalam pertemuan ini, dan itu menjadi sumber utama frustrasi," ungkap Petsonk.

Negara-negara miskin khususnya frustrasi karena di Warsawa sedikit sekali tanda bahwa negara-negara maju akan memenuhi janji untuk membantu negara-negara miskin dengan dana 100 miliar dolar per tahun menjelang tahun 2020.

Dari segi emisi, China telah melampaui Amerika sebagai pembuat polusi terbesar di dunia. Tapi dalam perundingan, China masih dianggap sebagai negara berkembang dan tidak diwajibkan untuk melakukan pengurangan emisi yang sama dengan negara-negara industri. Petsonk berharap China, yang tidak pernah meratifikasi perjanjian Kyoto, akan berperan lebih besar dalam setiap perjanjian baru.

Kemarahan karena kurangnya kemajuan berarti di Warsawa menyebabkan sebagian dari 800 aktivis lingkungan dan pembangunan termasuk kelompok Greenpeace dan WWF keluar dari perundingan tersebut.

Satu pertanda yang memberikan harapan di Warsawa adalah kesepakatan untuk mengurangi emisi karena penggundulan dan perusakan hutan. Petsonk mengatakan negara-negara harus melangkah maju untuk membuat rencana yang bisa mengukur komitmen mereka untuk mencegah bencana iklim.
XS
SM
MD
LG