Tautan-tautan Akses

Pidato Obama di PBB: Tidak Ada Jalan Pintas bagi Perdamaian Israel-Palestina

  • Dan Robinson

Presiden Barack Obama berpidato pada sidang ke-66 Majelis Umum PBB (Rabu, 21/9).

Presiden Barack Obama berpidato pada sidang ke-66 Majelis Umum PBB (Rabu, 21/9).

Presiden Barack Obama berpidato pada sidang Majelis Umum PBB ke-66 tentang apa yang disebutnya masa-masa perubahan, khususnya di Timur Tengah dan Afrika.

Presiden Obama mengatakan ia frustrasi dengan sejumlah penundaan dalam proses perdamaian, tetapi tetap percaya bahwa sengketa tersebut harus diselesaikan lewat negosiasi antara warga Israel dan Palestina, dan bukan di PBB. Para pemimpin Palestina telah mengatakan mereka akan meminta pengakuan PBB sebagai sebuah negara merdeka.

Obama mengulangi himbauannya agar Palestina kembali ke perundingan langsung dengan Israel, daripada mengejar status negara anggota penuh di PBB, apakah di Dewan Keamanan atau Majelis Umum.

Dalam pidato sekitar 35 menit, Presiden Obama menyebutkan daftar peristiwa di mana disebutnya negara-negara “tampil ke depan” untuk mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional, dan “lebih banyak orang menuntut hak universal mereka untuk hidup dalam kebebasan dan bermartabat.”

Diawali di Afrika, Obama mengatakan bahwa Sudan Selatan memperoleh kemerdekaannya dan warga Pantai Gading telah mengatasi pergolakan politiknya dan sekarang diperintah oleh orang yang dipilih untuk memimpin mereka.

Obama kemudian beralih ke apa yang disebut Musim Semi di Dunia Arab, dimulai dengan Tunisia, di mana ia mengatakan warga “memilih demonstrasi damai untuk melawan kekuasaan tangan besi”. Ia lalu berbicara mengenai Mesir.

”Seluruh warga Mesir, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, Muslim dan Kristen, menuntut hak universal mereka. Kita menyaksikan para demonstran yang memperjuangkan kekuatan moral tanpa kekerasan yang menyinari dunia dari New Delhi sampai Warsawa, dari Selma sampai Afrika Selatan – dan kita tahu bahwa perubahan telah tiba di Mesir dan Dunia Arab,” ujar Obama.

Obama mengatakan 42 tahun masa tirani di Libya berakhir dalam enam bulan, dengan bantuan NATO dan negara-negara Liga Arab yang bergabung dalam koalisi internasional. Ia menyebut kasus Libya sebagai contoh di mana “negara-negara berdiri bersama demi perdamaian dan keamanan dan demi orang-orang yang menuntut hak mereka.”

Presiden Obama juga menyebut Bahrain dan Yaman. Ia mengatakan Amerika akan terus mendukung kebebasan universal, dan mengatakan setiap negara harus “menentukan jalannya sendiri” untuk memenuhi aspirasi rakyatnya.

Berbicara mengenai “arah baru” bagi Amerika, Obama menyebut penarikan mundur pasukan Amerika dari Irak dan Afghanistan. Ia mengatakan Amerika sudah siap mengakhiri kedua perang yang diakibatkan oleh Osama bin-Laden dan Amerika menjadi lebih tegar.

“Sepuluh tahun lalu, ada luka menganga akibat besi baja yang bengkok, hati yang bersedih di jantung kota ini. Hari ini, dengan bangunan baru yang didirikan di Ground Zero, melambangkan pembaharuan New York, al-Qaida mendapat tekanan yang lebih besar daripada sebelumnya, kepemimpinanya hancur. Osama bin Laden, orang yang membunuh ribuan warga dari puluhan negara, tidak akan bisa lagi membahayakan perdamaian dunia,” kata Obama.

Presiden Obama juga menyerukan sanksi bagi rejim Suriah, dengan mengatakan warga Suriah telah menunjukkan martabat dan keberanian untuk memperjuangkan keadilan.

Presiden Obama memuji perkembangan-perkembangan di Sudan Selatan, dimana sebuah referendum yang sukses telah menghasilkan penentuan nasib sendiri bagi terbentuknya negara Afrika baru. Ia juga mengatakan upaya-upaya oleh Dewan Keamanan PBB di Pantai Gading telah membantu mengeluarkan negara tersebut dari krisis politik menjadi pemerintahan yang terpilih secara demokratis.

XS
SM
MD
LG