Tautan-tautan Akses

Pertanian Komunitas di AS Sediakan Lapangan Kerja bagi Tuna Grahita

  • Susan Logue

Seorang penghuni panti tuna grahita di Montgomery County, negara bagian Maryland, sedang menyiangi sayuran segar untuk makan malam yang dikirim oleh pertanian komunitas Red Wiggler.

Seorang penghuni panti tuna grahita di Montgomery County, negara bagian Maryland, sedang menyiangi sayuran segar untuk makan malam yang dikirim oleh pertanian komunitas Red Wiggler.

Sebuah pertanian komunitas dekat ibukota Washington, DC, bukan hanya menanam sayuran, tetapi juga menyediakan lapangan kerja bagi para tuna grahita.

Pada sebuah pagi yang mendung bulan Oktober lalu para pekerja di Pertanian Komunitas Red Wiggler di Montgomery County, negara bagian Maryland, para pekerja sibuk memanen cabai paprika, lobak dan aneka sayuran lainnya. Mereka juga mengolah ladang untuk musim tanam mendatang. “Cacing-cacing di Red Wiggler membuat tanah gembur sehingga tanaman bisa tumbuh subur. Ini adalah tempat di mana kami membantu komunitas kami mandiri,” ujar Woody Woodroof, direktur eksekutif pertanian ini.

Ia mendirikan Red Wiggler tahun 1996. Dari sejak awal, mengkaryakan para tuna grahita merupakan bagian dari misi usaha pertanian itu. Empat orang staf membantu 15 petani, termasuk David Ruch.

“Saya datang pagi-pagi untuk mengurus ayam. Setelah itu saya memetik sayur mayur,” papar Ruch.

Para petani di sini dibayar dengan upah minimum atau sedikit lebih tinggi. Mereka juga banyak melakukan pekerjaan di luar lahan-lahan pertanian. Mereka makan makanan yang mereka tanam di sini, bukan hanya setelah selesai memanennya, tetapi juga di rumah. Sedikitnya sekali seminggu mereka membawa sekotak penuh sayuran ke rumah mereka.

“Saya mendapat banyak sayuran. Saya membawanya pulang untuk dibuat salad atau ditumis,” ujar Ruch lagi.

Para tuna grahita di Montgomery County juga mendapatkan sayur mayur dari pertanian ini. Sekali seminggu selama musim tanam, sayur mayur segar dari pertanian itu dikirim ke lebih dari 450 tuna grahita yang tinggal di panti-panti tuna grahita.

Dengan bantuan beberapa staf, mereka juga menyiangi sayur mayur itu untuk makan malam mereka.

Woodroof mengatakan, keinginan untuk mendirikan Pertanian Red Wiggler sudah ada sejak lama, saat ia bekerja di sebuah panti serupa itu. “Saya perhatikan makanan yang mereka makan kurang sehat. Kami punya halaman di belakang, lalu saya pikir, mengapa kita tidak mulai berkebun sayur?” kenangnya.

Sekarang, Woodroof tidak hanya berkebun sayur di halaman belakang, tetapi ia juga mengawasi enam hektar lahan pertanian. Tujuh puluh lima persen hasilnya diperuntukkan bagi lebih 100 pelanggan, yang mendukung pertanian itu dengan membeli saham dan mendapatkan hasil panen seminggu sekali dari pertanian itu.

“Tahun lalu hasil panen kami bernilai 100.000 dolar,” kata Woodroof.

Dengan anggaran sekitar 500.000 dolar, Red Wiggler masih tergantung pada dana tambahan dari berbagai sumber, terutama hibah dan sumbangan pribadi.

Tahun depan, pertanian ini akan memperpanjang musim tanam dari sembilan bulan menjadi 12 bulan, sehingga bisa menyediakan lapangan kerja sepanjang tahun.

XS
SM
MD
LG